“Menulis adalah nikmat termahal yang diberikan oleh Allah, ia juga sebagai perantara untuk memahami sesuatu. Tanpanya, agama tidak akan berdiri, kehidupan menjadi tidak terarah...” Qatâdah, Tafsîr al-Qurthûbî

Rabu, 28 Desember 2011

Resolusi Juara 2012



Memantabkan hati, membulatkan tekad, dan dengan sendirinya raga pun merespon apa keinginan saya. Hingga seluruh saraf  berteriak "selamat datang resolusi 2012!!". Segenggam asa yang  telah tergantung di langit biru siap tercapai ketika matahari mengepakkan sinarnya, yakni dalam waktu yang telah dijanjikan, tahun 2012. Sekali lagi dengan lantang saya katakan "inilah Resolusi Juara tahun 2012".

Jari-jemariku terlalu bersemangat menekan tombol-tombol keyboard, menyulam kata demi kata sampai tercipta sebuah karya, sungguh saya tak percaya, tulisan saya akan siap dikirim ke penerbit. Dan inilah resolusiku ditahun 2012, menerbitkan sebuah buku yang nantinya dapat bermanfaat bagi orang banyak, di samping itu tentu menjadi sumber penghasilan karena tak selamanya saya akan terus hidup bergantung orang tua. Dari sinilah resolusi kedua muncul, sebelum usia 19 tahun saya harus bisa membiayai kebutuhan pribadi dengan hasil usaha sendiri. Ini menyenangkan sekali.

Saya yang masih duduk di bangku SMA sudah tentu memiliki bekal yang kurang tentang dunia kepenulisan. Maklum saja, SMA bagi saya hanya mengarahkan siswa-siswanya menuju perguruan tinggi, bukan mendalami  apa yang menjadi keahlian atau potensi siswanya seperti menulis, menggambar, menyanyi dan lain sebagainya. Maka tak tanggung-tanggung saya memilih sekolah yang lebih mendukung impian saya, memberi informasi lebih luas, berbagi dan berkumpul bersama orang-orang di seluruh dunia sepemikiran, dialah internet, sekolah kehidupan yang tak kenal lelah menjawab segala ketidaktahuan saya. Selain itu, internet juga membantu saya mengetahui seberapa jauh kemampuan saya dalam menulis lewat komentar-komentar pembaca. Bertahap namun pasti, saya mulai lihai merangkai kata menjadi kalimat, menyatukan kalimat menjadi paragraf indah dan lahirlah karya.


Sudah 3 tahun ini ibu saya berlangganan internet dengan Telkom speedy, saya semakin nyaman, tak perlu repot berjam-jam di warnet dengan biaya yang relatif mahal. Ini membuktikan Telkom speedy memberikan pelayanan yang extra terhadap pelanggannya. Bahkan suatu hari ketika saya sedang mengirim file penting lewat email, tiba-tiba internet di rumah mengalami kerusakan, entah bagian mana yang error, namun setelah saya hubungi tak sampai setengah jam pegawai Telkom yang bersangkutan tiba dan segera memperbaiki kerusakan. Hah, untunglah.

Kembali ke resolusi juara 2012, awalnya tak terbesit keinginan menerbitkan tulisan yang selama ini tergeletak di laptop, namun lagi-lagi internet mensupport saya. Saya search di internet tentang proses penerbitan buku dan segala tetek bengeknya, dan hati ini pun semakin mantab untuk menciptakan sebuah buku di tahun 2012. Dengan bantuan internet pula, saya belajar mengedit, mengatur kata, hingga menata hati bagaimana menulis yang benar, karena sesuatu yang disampaikan dari hati maka ia akan sampai ke hati pula. Segudang ilmu yang mungkin tak kudapat di sekolah umum, dan segalanya dapat kutangkap dari sekolah kehidupan, internet.

Efek jangka panjang juga sudah saya pikirkan, bagaimana jika tulisan saya tidak diterima penerbit, bagaimana jika tulisan saya diterima oleh penerbit namun buku saya tidak dikenal masyarakat, dan berbagai pertanyaan bagaimana lainnya. Tanpa hitungan waktu, hati kecil saya telah menjawabnya, "tenang, Tuhan akan membantumu dengan perantara internet, jika naskahmu tak diterima penerbit engkau dapat belajar lewat penulis-penulis terkenal dengan internet, jika bukumu tak dikenal masyarakat engkau dapat mengenalkannya bahkan kepenjuru dunia lewat internet, dan optimislah, tunjukkan pada semua makhluk bumi bahwa engkau adalah manusia hebat". Seketika semangat kembali teguh mengalahkan gunung yang tinggi.

Beruntunglah engkau yang membaca tulisan ini, saya hanya ingin berbagi dan memotivasi. Dan secuil pesan saya, jangan berhenti menggali potensi, jangan malu dalam berkarya, jangan putus asa menggapai mimpi, sebab apapun yang engkau citakan kan tercapai sesuai usaha tanganmu... Lets fighting for Resolution 2012!!

Sabtu, 17 Desember 2011

Wahai Kematian, Mendekatlah !!



ketika malaikat bernama Isroil menggenggam titah dari Tuhan
menjemput nyawa setiap makhluk yang dikehendaki-Nya
hatiku pun benyanyi
 "kematian, mendekatlah... kematian mendekatlah..."
peluk setiap insan yang beriman
agar mereka tak henti beriman
agar sinar hidayah tak henti berkilau dalam ruang kalbu mereka
dan hati mereka pun bernyanyi "kematian mendekatlah..."

Pengalaman jiwaku begitu saja berhenti dalam sebuah ruang, ruang gelap nan penuh ibroh. Otakku pun bertanya, benarkah Mas Nanang kini tlah tiada? Ya Allah dia hanya seorang anak yang ingin senantiasa menemani seorang emak selama sisa hidupnya. Namun mengapa kau suruh Isroil panggil nyawanya? Lantas, siapa yang akan menemani emaknya? Siapa yang akan mengantar Bude Mi ke pasar? Ya, begitulah aku biasa memanggil emak Mas Nanag, Bude Mi. 

Dhuhur itu aku mendengar perbincangan serius ibuku lewat telepon genggamnya. Terlihat raut mukayag bingung dan khawatir. Matanya berkaca dan dahinya mengkerut mengikuti suasana hati. Setelah telepon ditutup, ibu mengumpulkan anak-anaknya. Akan ada perbincangan serius. "Dek tolong do'akan Mas Nanang, sekarang lagi kritis di rumah sakit Caruban". "Innalillahi ! kritis?", aku shock bukan main. Bagaimana bisa seorang laki-laki berusia 23 tahun itu kritis. Kupikir penyakit jantung yang dideritanya beberapa tahun lalu itu telah hilang dari raganya, namun kali ini kembali mampir ke organ dalamnya.

Sehari setelah perbincangan duka itu, tepatnya Jum'ah sore, 9 Desember 2011, tepelon rumah tiba-tiba berdering. Saudaraku dari Caruban mengabarkan bahwa jantung Mas Nanang melemah. Yang hanya bisa kami lakukan adalah berdo'a. Seperti biasa, usai sholat do'a kupanjangkan, khusus untuk saudara jauhku itu. "Ya Robbi, berikanlah yang terbaik untuk Mas Nanang, bila engkau berkehendak memanggilnya, maka panggillah dalam keadaan khusnul khotimah. Namun jika engkau berkeinginan ia tetap hidup, maka sembuhkanlah penyakitnya. Robbana atina fiddunnya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqina 'adzabannar". Bersamaan dengan usainya do'aku tadi, telepon berdering kembali. Terdengar informasi bahwa Mas Nanang telah meninggal. Pergi ke alam barah bersama dengan amal-amalnya. "Innalillahi wa inna ilaihi roji'un, Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu".

                                                                              ***

Ahad pagi yang mempesona, aku bersama sepupu kecilku bernama Ifti mengendarai sepeda menuju Pasar Gemblung. Pasar tradisional yang terletak tepat di bawah bukit dekat rumah nenekku Caruban. Kupancal sepeda unta milik Mbah Kung sewajarnya, menikmati pemandangan yang super indah. "Mbak, buruan!" kulihat Ifti yang berada di depanku berteriak ingin cepat sampai di penjual roti bakar Pasar Gemblung. "Napa sih buru-buru! Sek to! mbak menikmati perjalanan nih, di Magetan nggak ada kayak gini", sahutku. "Ah, yaudah", Ifti mengalah. 1 km perjalanan kami melewati makamyang cukup luas, entah tiba-tiba hati ini terasa dingin ketika memandang salah satu rumah masa depan itu. Dunia menjadi teduh, seteduh sore dan bayanganku semakin tak karuan. Bukan kuntilanak atau pocong yang kubayangkan, tapi bagaimana jika detik ini aku dipanggil sang Khalik, dan datanglah seorang malaikat berpenampilan seram mencuri nyawaku. Sungguh! cara yang tidak sopan!. " Hoe mbak! kenapa berhenti di kuburan? ayo, nanti roti bakarnya habis". Teriakan adik sepupuku itu membuat lamunanku pecah. "Eh, ngapain aku berhenti di sini??" aku sendiri kebingungan. Perjalanan kulanjutkan. 

Setelah melewati luasnya permadani, akhirnya kami tiba di Pasar gemblung. Kuparkirkan sepeda di depan bengkel yang nampaknya masih tutup. Derap langkah menuju pintu utama pasar membuat si unta dan sepeda sport Ifti tak terlihat. Pertama kami membeli jenang grendhul untuk oleh-oleh orang rumah dan terkhir roti bakar idaman Ifti. Suasana pasar yang begitu rumit menyebabkan aku tak betah lama-lama di sana. Kami segera kembali ke rumah mbah. Menuruti saraf sensorik, langkah sedikit kulambatkan. Tak sengaja kulihat sebuah warung kopi pinggir jalan yang di depannya duduk seorang lelaki kurus yang sangat kukenal wajahnya, Mas Nanang. "If, itu Mas Nanang". "Iya mbak, sama temennya" Ifti menjawab seadanya. Aku ingin menyapanya, namun banyak sekali kaum adam di warung itu yang membuatku malu.

Mas Nanang sebenarnya bukan saudara sedarahku. Namun keluarganya sudah begitu dekat dengan keluarga mbahku, hingga kami menganggap mereka adalah saudara dekat. Dulu semasa aku kecil, laki-laki periang itu sering sekali mengerjai aku dan saudara-saudaraku, entah dengan bertambahnya usia kami semakin jarang berbicara bahkan tak pernah berbicara. Mungkin kami sama-sama malu.

Rok kucincingkan sedikit, sepeda unta siap kupancal. Semakin jauhlah kami meninggalkan pasar Gemblung, kembali melewati permadani lukisan Ilahi. Perjalanan pulang ini sedikit berbeda saat aku dan Ifti berangkat tadi, jalanan lebih ramai dan sang surya lebih semangat mengepakkan sinarnya. Beberapa kali sepedaku oleng     diselip truk bersopir gadungan. Pingin deh rasanya teriak, "Woyyy! ini bukan jalanan mbah lo!" #astaghfirullah

Melewati makam imajinasi tadi, pertigaan, warnet, kami belok kanan memilih jalan yang lebih aman, gang nangka. Jalan ini lebih aman walaupun jaraknya sedikt lebih jauh. Ku minta Ifti yang berjalan di belakangku  mengambil foto anak kambing yang sedang asyik bermain pasir, lucu sekali. Dan inilah kerugian menyuruh anak kelas 5 SD, bukan foto anak kambing yang diambil, tapi malah fotoku. "Ya nggak papa, mbak kan mirip kambing hahahaha" gadis kecil itu menyalipku sambil tertawa jahil.

Dan tak sautupun makhluk yang mengetahui kehendak Tuhannya, 6 hari setelah pertemuan tak sengajaku dengan Mas Nanang, ia dipanggil oleh pemiliknya, Allah azza wajalla. "Ya Robb, jika di pasar Gemblung kemarin aku tak bisa menyapa Mas Nanang, maka ijinkan aku menyapanya dalam pertemuan yang Engkau ridhoi, pertemuan yang lebih indah dari bulan dan bintang di malam hari".

Minggu, 11 Desember 2011 

Jumat, 09 Desember 2011

I'm Waiting



Kusandarkan kepala di atas kapuk putih
di balut kain corak bunga nan merah delima
berharap muadzin II segera mengumandangkan seruan sholat

tak lama...
dhuhur datang berteriak
lewat corong diantara rumah Tuhan
namun, bukan ini yang menjadi harapan dalam benak
ini bukan muadzin II ! ini suara muadzin I !

ah, tenggelamnya sang surya ternyata masih begitu lama
raga ini tak berdaya karena menahan asa
sekali lagi tenggelamnya sang surya ternyata masih begitu lama
tak disengaja aku pergi
pergi ke alam lelap
menanti muadzin II segera mengumandangkan seruan sholat

inilah diri,
seoggok insan yang ingin berbakti
menjalani syari'at Ilahi
hingga isroil memaksa nyawanya pergi
memelas setiap hembusnya di ruang fana mendapat jannah yang abadi

-imanku di rabu siang- 

Sabtu, 29 Oktober 2011

Soreku dan Al-Qur’an



Kuceritakan kejadian ini kepada si kecil Nisa yang kebetulan saat itu sedang bermain dokter-dokteran di kamarku, entah sadar atau tidak apa yang ia katakan “ya gitu mbak, cara Allah melindungi al-Qur’an”, untuk kedua kalinya dia nyelonong pergi tanpa pamit.


Siang yang terik itu membuatku mengeluh "hari ini pasti akan panas lagi seperti biasa". Pada hari itu pula akan diadakan regenerasi 'rohis' sepulang sekolah. Sebagai koordinator akhwat yang akan lengser, sepatutnya aku memang harus hadir dan membantu tetek bengek acara tersebut. Padahal minggu lalu sudah kurencanakan untuk qoilulah pulang sekolah, Maklum kelas 3 memang di intensifkan waktu belajar mengajarnya sehingga hampir setiap hari aku harus pulang sore, kecuali Sabtu ini.

Scedhule pertama adalah mengambil snack yang kemarin sudah dipesan salah seorang panitia acara yakni Ukhti Jayani. Karena Allah menakdirkan kami untuk memesan snack ke pembuat kue yang baik hati, kami hanya disuruh menunggu di depan pos satpam sebab pembuat kuelah yang langsung mengantar snack tersebut ke sekolah. Namun apa daya manusia yang dho'if ini, berjalan dari masjid ke pos satpam saja terasa merangkak 100 kilo di atas Sahara. 5 menit sampai di depan pos satpam aku dan Jayani langsung mencari tempat duduk di bawah pohon mangga berharap ada udara lebih yang mau meniup keringat kami yang bercucuran. Sambil menuggu pesanan datang, Jayani mengeluarkan tas berisi kotak ajaib, dia menawarkanku untuk membantunya menghabiskan bekal makanan yang ia bawa dari rumah. Yummiiii, tanpa pikir panjang aku ambil kotak ajaib itu beserta sebuah sendok. Setelah dibuka isinya adalah nasi kecap yang ditaburi tahu berbalut telur. Walaupun sedikit berantakan namun rasanya bak ikan gurami goreng ala rumah makan Suminar. Inilah alasan orang yang sedang lapar, semua makanan dianggap enak. *Tapi bener enak kok Jay^^

Setelah beberapa menit sesi suap menyuap dengan Jayani, laki-laki bejenggot tipis beserta seorang temannya datang membawa 3 kantong plastik besar berisi kotak-kotak putih. Oh ternyata itu makanan yang kami pesan. Menurut hasil syuro' kemarin, 10 menit lagi acara akan dimulai, aku dan seorang perempuan berpostur tinggi itu segera kembali ke masjid mengantar snack. Dan kali ini perjalan dari pos satpam ke masjid serasa mendaki gunung Uhud, berat dan jauh. Dalam perjalan, beberapa kali kami tertimpa musibah, kotak-kotak putih dalam kantong seperti ingin melarikan diri dari penjara, satu per satu berjatuhan. Untunglah harta karun dalam kotak putih itu tidak ikut jatuh. Enam langkah yang kami tempuh, tiba-tiba perjalanan mendaki itu terhenti, sambil cengar-cengir Jayani meminta izin padaku untuk mengambil tepat makannya yang tetinggal di bawah pohon mangga tadi. Kembalinya ia dari pos satpam, kami meneruskan perjalanan sambil bercerita mengenang kejadian selama siang tadi. Mengasyikkan.

Para peserta dan pembina pun berkumpul, tanda acara regenerasi 'rohis' akan dimulai. Sebagai panitia, aku ditemani dua perempuan berjilbab menunggu di ruang panitia, menghitung-hitung snack yang jumlahnya tidak sepadan dengan para peserta. Namanya juga perempuan, kami terlalu memikirkan masalah yang sepele termasuk kurangnya snack yang akan dibagikan nanti. Dengan berat hati kami meminta tolong kepada peserta kelas 3 agar saling membagi makanan yang sebenarnya hak mereka adalah mendapat satu kotak untuk satu orang.

Suasana menginjak sepi, aku, Siwi, dan Jayani masih berada di sebuah ruang kelas yang merangkap sebagai ruang panitia. Tak sengaja kutertarik dengan sebuah cincin yang melingkar di jemari salah seorang temanku, Jayani. “Jay, boleh pinjam cincinmu itu?” tanyaku, “boleh kok, nih” jawab Jayani sambil menyodorkan cincinnya padaku. Lalu kupasang benda perak itu di jari kelingkingku sebelah kanan, “cocok nggak?” pertanyaanku yang satu ini tak ada yang menjawab. “Eh Han, aku penasaran sama suamimu besok, kayak gimana ya?” Siwi tiba-tiba nyeletuk dengan wajah heran. Aku tak habis pikir ia akan bertanya demikian. Dari tema percakapan yang tak disengaja tadi, mulailah sebuah percakapan serius. Aku sudah lupa apa yang mereka berdua tanyakan, yang jelas terasa lama sekali aku berbicara menjelaskan perkara pacaran-khitbah-nikah dalam Islam. Dua perempuan cantik itu terlihat antusias sekali mendengarkan suaraku.

Kujelaskan sekali lagi kesimpulan dari ayat Al-Qur’an, hadits, kisah inspiratif dan berbagai tsaqofah yang aku paparkan, tepat ketika suara para dewan syuro’ regenerasi yang mulai berdebat kecil memberikan pendapat. Kami memutuskan untuk keluar ikut dalam barisan peserta di ruang sebelah. Usai percakapan singkat tadi kulihat mata Jayani dan Siwi berbinar-binar, sepertinya mereka sedang memikirkan sebuah acara khitbah dan walimatul’ursyi masa depan. Haha.

Sedikit canggung saat kami memasuki ruangan penuh makhluk itu. Bisa dipastikan kami pendatang paling akhir. Tak sengaja melirik, kulihat baris satu dua adalah tempat duduk pembina selaku dewan syuro’ dan para peserta ikhwan, dan tiga baris terakhir adalah tempat untuk akhwat. Sip, penataan sesuai rencana syuro’ kemarin, batinku.

Sampai di tempat duduk akhwat, aku, Siwi, dan Jayani berpencar karena memang sudah tidak ada lagi tiga kursi berjejer di sana. Aku mendapat kursi nomor dua dari belakang paling pojok. Terlihat beberapa makanan tercecer di atas kursi masing-masing. “insyaAllah tidak ada yang kekurangan makanan sore ini”, aku senyum-senyum sendiri merasa lega. Dan terbukti, banyak peserta akhwat yang merasa kenyang hingga kue dalam kotak putih yang aku bagikan tadi tidak dihabiskan. “Ya Allah aku lapar, bolehkah aku meminta satu saja lumpia yang bukan hak ku itu?, Allah menjawab pertanyaanku, tiba-tiba saudara perempuanku menyodorkan sebutir kue klepon sisa makanannya. “Han, mau nggak?”, dia mungkin tidak tahu saudara peremupuan dan dua temannya dari tadi belum mendapat bagian kotak putih itu. “Sini!” jawabku. Lalu dengan hati-hati kumasukkan sebutir kue bertabur parutan kelapa itu ke dalam mulut, saat gigitan pertama, mak klethus, gula merah cair muncrat dari dalam kue klepon itu, inilah sensasi makan klepon, ‘mak klethus’. Tak sengaja aku teringat dua temanku yang dari tadi juga belum mendapat bagian kotak putih, si lucu Siwi dan si tinggi Jayani. “Apakah mereka sudah mendapat kue sepertiku?”

Kira-kira setengah jam kemudian, acara regenrasi itu usai,telah terpilih pemimpin atau koordinator yang semoga adil dan baik dalam amanahnya untuk satu tahun ke depan. Setelah berjabat tangan dan cipika cipiki dengan teman sesama akhwat, aku dan beberapa teman lainnya menuju masjid untuk sholat ashar. Bersamaku ada beberapa akhwat yang tak kusebut namanya dari awal, selain itu ada Siwi, Jayani, dan salah seorang saudara perempuanku yang tadi menyodorkan sebutir klepon yaitu Rohma.

Merasa rumahnya ndeso alias jauh, Siwi dan beberapa teman akhwat lainnya berpamitan untuk pulang, mungkin takut kesorean. Tinggallah di masjid itu hanya aku, Jayani, dan Rohma. Tidak ada interaksi, kami bertiga sibuk dengan urusan masing-masing. Jayani yang kuingat ia sedang sibuk sms-an dengan adiknya, bisa ditebak dia minta dijemput. Rohma, sepengetahuanku dia komat-kamit nggak jelas, sepertinya sedang membaca al-ma’tsurot. Aku sendiri di tangga masjid yang berbeda, membaca sebuah buku Best Women in Heaven karangan salah seorang anggota dewan pengajar Universitas al-Azhar. Bab II dengan judul al-Hur al‘ain, menarik perhatianku. Di situ dijelaskan arti, perbedaan pendapat tentang asal arti al-hur ‘ain versi beberapa ‘ulama’, penciptaan bidadari menurut al-Qur’an dan hadits, kelompok bidadari, dan lain sebagainya. Kok jadi cerita tentang buku yak?

Kriik krik, suasana makin senyap, “pulang yuk”, ajakku. Dua akhwat di plataran masjid itu mengiyakan ajakanku. Satu meter perjalan kami, tiba-tiba Allah turunkan rohmatNya, di sore tanpa mendung turun hujan rintik-rintik yang lama-kelamaan menjadi deras. Allahumma shoyyiban nafi’an. “Aduh tambah deras nih, kita balik ke masjid aja!”. Tanpa pikir panjang aku dan Jayani menyetujui pikiran Rohma. Cepat-cepat kami melepas sepatu dan menaiki tangga masjid. “Han, adikku nggak bisa jemput, gimana ini?” tanya Jayani. “Nanti aku yang nganterin, Rohma biar nunggu dulu di pos satpam”, jawabku. Sekitar tiga menit kemudian, hujan reda begitu saja, Karena hari hampir petang, kami putuskan untuk cepat-cepat kembali ke rumah. Langkah kami pun terhenti di depan pintu gerbang kecil dekat tempat parkiran, langit kembali menangis, kali ini lebih deras. “Subhanallah, kita balik aja yuk ke masjid, kayaknya redanya bakal lama deh”, keluhku. “Ya Allah Han, seneng banget sih lu bolak-balik!”, “tau ni!”, Rohma dan Jayani tak setuju dengan tawaranku. Finally tinggalah tiga akhwat kumut-kumut berdiri dalam lorong gelap menanti cerahnya langit.

“Eh kayaknya masih lama deh terangnya, mending ke masjid yuk hehe”, si Jayani mulai letih berdiri hingga menyetujui tawaranku tadi. “Nah gitu dong dari tadi.. ayuuk!”, jawabku. Bagai banci dikejar Satpol PP, kami bertiga belari menuju masjid sambil tertawa kecil di bawah derasnya hujan. Sungguh menyenangkan.

Belum sempat tangga masjid kami injak, hujan berubah rintik, sangat rintik. Aku, Rohma, dan Jayani saling menatap, disaat yang bersamaan kami tertawa bak orang kisinan. “Haha ngotot banget sih pengen ke masjid, udah berapa kali kita bolak-balik ke mari? Liat, udah hampir terang nih”, kali ini Rohma unjuk suara. Sungguh tiada seorangpun yang tahu kapan Allah akan berkehendak, kapan Allah turunkan hujan, kapan Allah hentikan hujan.

Untuk ketiga kalinya kami pergi meninggalkan rumah berkubah itu dengan rasa harap-harap cemas.

Tiba di gerbang kecil tempat berteduh kami tadi, kami berpisah, aku dan Jayani belok ke kanan menuju parkiran mengambil motor, dan Rohma belok ke kiri menuju pos satpam menanti aku kembali dari mengantar Jayani.

Sekarang tinggal aku dan Jayani di atas motor matic bewarna biru tua, berjalan 35km/jam melewati pohon-pohon besar yang tumbuh di samping ruang-ruang kelas. Bress! Hujan kembali turun deras. Spontan kubelokkan sepeda motor yang aku setir ke arah lorong besar dekat gerbang keluar sekolah. Lorong yang aku tempati kali ini adalah lorong utama yang menghubungkan antara taman luar dan ruang kelas 1, kebanyakan pengguna lorong ini adalah siswa kelas 1, jadi tak jarang para penghuni sekolah menyebut tempat ini, lorong milik kelas 1. Aahh sekarang bukan saatnya bercerita tentang ruang gelap itu, ini saatnya memikirkan bagaimana nasibku, Jayani dan Rohma.

Kupaksa Jayani turun dari motor dahulu agar segera berteduh, sementara aku menaruh motor tak jauh dari lorong utama. Setelah motor terjagang, aku berlari menuju tempat Jayani berteduh, dari kejauhan kulihat wajahnya mulai cemas. Tepat di taman depan lorong, Allah hentikan hujan deras yang jatuh beberapa menit itu. “Subhanallah walhamdulillah” kataku dalam hati. “Hana, mendingan kita nekat langsung pulang aja, aku takut nanti ujan turun lagi!”, dari ruang gelap tempat ia menunggu, Jayani berteriak dan lari mendekatiku. Aku, Jayani, dan vario biru pun pergi meninggalkan gedung tua itu secepat mungkin.

Di seperempat perjalan, kecepatan si vario yang semula 80 km/jam mendadak berubah 30 km/jam. Hujan lebat disertai banjir setinggi setengah lutut orang dewasa di depan mata membuatku mengurangi kecepatan. Sering kutemui antara satu daerah dengan daerah lain memiliki debit hujan yang berbeda, dan inilah yang terjadi saat ini. “Jay, kita terus aja ya? udah kehujanan gak papa, kasian Rohma nanti nunggu lama!” dibalik helm VOG aku berteriak mengutarakan kenekatanku. “Kamu gak papa Han? Aku sih setuju aja”, teman ku yang satu ini menunjukkan ketabahannya.

Sampai juga di pintu gerbang perumahan di mana Jayani tinggal. Kompleks rumah yang terletak di dataran tinggi ini memang tak terkena banjir, namun banyak lubang yang menghiasi sepanjang jalan. Ah kecil…

Perempatan pertama belok kanan, lurus, lalu belok kanan lagi, ada tempat pembuangan sampah belok kiri, kemudian belok kiri lagi, sampailah di depan rumah ber cat putih tanpa pagar. Rumah Jayani. Cepat-cepat perempuan berwajah mirip Pipit Senja itu turun dari boncenganku. “Syukron ya Han. Kamu di sini aja dulu nunggu terang, mungkin sekolah sekarang lagi hujan deras juga”, katanya. “’afwan, nggak deh Rohma udah nunggu lama nih,aku langsung balik aja. Assalamu’alaykuum!!”, aku berbalik arah meninggalkan Jayani.

Astaghfirullah, aku baru sadar! Di dalam ransel hitamku ada mushaf dan beberapa buku bacaan yang aku beli dari sangu lebaran kemarin kehujanan. Untuk buku pelajaran aku tak terlalu eman, karena seluruh buku paketku bukanlah buku asli dari penerbit melainkan berupa fotocopy-an. Yah semoga saja mereka mampu menjaga diri dalam ransel.

Perjalanan dari rumah Jayani menuju sekolah ini agaknya lebih cepat walaupun hujan deras semakin merata. Tanpa kupanggil Rohma tiba-tiba keluar dan cepat menaiki motor. “Allaah, kamu abis mandi Han?”, disituasi genting ini Rohma masih saja bisa bercanda, “ah elu, jelas-jelas ane kehujanan”, jawabku.

15 menit perjalanan, sampai juga di rumah. Namun belum sampai motor terparkir, dari jendela ummi memanggilku, “Han, kamu udah basah kan, sekalian jemput dek Nisa di TPA, kasian dia”. Oke, tancap gas menuju RT 3.

“Mbaak!”, bocah berpakaian serba putih dengan payung merah berlari menghampiriku. “Cepet naik dek! Mbak kehujanan nih” kulambai-lambaikan tangan ke arah Nisa. “Mbak tadi aku diajari tashrif ama hadits lho. Oya ini dapet hadiah buku dari ustadz Fauzan, aku juara 2 tahfidzul Qur’an”, dengan semangat Nisa kecil bercerita kegirangan tanpa berfikir kakaknya sudah kedinginan sejak tadi. “Alhamdulillah, sekarang buruan naik motor ceritanya diterusin ntar aja di rumah mbak kedinginan nih”. “O iya hehe.. pulang yuk! Mbak Hana sih nggak brangkat-brangkat dari tadi”. Satu kata untuk kejadian ini -glodakk-

Sampailah digubuk hijau rumahku. “Hoooop! Aku turun sini aja, garasinya kan nggak cukup mbak” suara kecil Nisa kembali memekakkan telinga. Ku hentikan motor di depan garasi, membantu adekku yang satu ini turun dari motor. Eits urusan belum selesai, ruang kosong yang seharusnya untuk parkir motor malah digunakan Nisa untuk menaruh payungnya. “Nisaa payungnya singkirin, mau dipakek naruh motor mbak nih!”, teriakku. “Assalamu’alaykuum, Ummiiiiii aku pulaang”, ternyata yang diajak ngomong sudah nyelonong pergi. Mau tak mau aku turun lagi dari motor memindah payung tadi ke tempat lain.

Masuk ke rumah kulihat umi sedang tilawah di ruang tengah dan Nisa yang sibuk dengan kado dari ustadz TPAnya. Aku bergegas mandi karena bajuku sudah basah kuyub layaknya pakaian yang habis diublek mesin cuci.

Setelah mandi, kuperiksa isi tas. Dan subhanallah, hampir seluruh bukuku basah kecuali mushaf dan dua buku islami dengan judul Best Women in Heaven yang tadi kubaca di masjid dan Qishatti fi Hifdz Al-Qur’an tulisan Muna Ulaiwah yang telah rampung kubaca di sekolah saat pelajaran bahasa Indonesia pagi tadi. Padalah buku-buku itu kuletakkan jadi satu, namun sekali lagi inilah kehendak Allah. Kuceritakan kejadian ini kepada si kecil Nisa yang kebetulan saat itu sedang bermain dokter-dokteran di kamarku, entah sadar atau tidak apa yang ia katakan “ya gitu mbak, cara Allah melindungi al-Qur’an”, untuk kedua kalinya dia nyelonong pergi tanpa pamit.

*Kisah nyata dengan sedikit perubahan

Kamis, 11 Agustus 2011

ketika ku baca do'a robithoh...


sebentar, ku usap dulu air mataku..

ketika ku baca do'a robithoh...
terbayang wajah mujahid mujahidah dalam sepotong jalan dakwah
berangan detik ini bertemu disebuah perjuangan, tanpa menunggu detik detik berikutnya
apakah ini sebuah kerinduan yang datang dariNYA?
atau hanya keinginan duniawi? ah kurasa tidak

uh ternyata tangisan ini bertambah isak, aku jadi malu

ketika ku baca do'a robithoh...
tak kusangka bangunan dakwah kita sungguh kokoh kawan, melebihi kokohnya gunung. apa engkau merasakan sama apa yang aku rasakan?
semoga istiqomah selalu menjadi prioritasku dan prioritasmu

tunggu, beri aku waktu menata nafasku yang tersengal-sengal akibat tangisan ini

ketika ku baca do'a robithoh...
api semangat ini semakin membara
kurasakan kehadiranNYA yang begitu dekat, sangat dekat, lebih dekat dari urat nadiku.

wahai saudaraku, 
engkaulah ummat pilihan Allah, tidak kah kau manfa'atkan kesempatan besar ini?
ketika Allah tlah buka hatimu, maka jagalah dan jangan kau biarkan setan menguasainya
ketika Allah tlah satukan hati kita, maka pereratlah dan jangan kau biarkan ia terpecah

letih yang kita rasakan, harokah yang kita amalkan, ikhlas yang kita tanamkan, semoga menjadi indahnya pahala hingga Allah pertemukan kita dalam keadaan ihsan...

di sepotong jalan dakwah ini ku berdo'a...
Yaa Robbi bimbinglah kami...


Senin, 18 Juli 2011

PERTAMA! Hafalkan Al-Qur'an

Abu Umar bin Abdil Barr berkata:
“Menuntut ilmu itu ada tahapan-tahapannya. Ada marhalah-marhalah dan tingkatan-tingkatannya. Tidak sepantasnya bagi penuntut ilmu untuk melanggar/melampaui urutan-urutan tersebut. Barangsiapa secara sekaligus melanggarnya, berarti telah melanggar jalan yang telah ditempuh oleh as-salafus shalih rahimahumullah. Dan barangsiapa melanggar jalan yang mereka tempuh secara sengaja, maka dia telah salah jalan, dan siapa saja yang melanggarnya karena sebab ijtihad maka dia telah tergelincir.

Ilmu yang pertama kali dipelajari adalah menghafal Kitabullah k serta berusaha memahaminya. Segala hal yang dapat membantu dalam memahaminya juga merupakan suatu kewajiban untuk dipelajari bersamaan dengannya. Saya tidak mengatakan bahwa wajib untuk menghafal keseluruhannya. Namun saya katakan bahwasanya hal itu adalah kewajiban yang mesti bagi orang yang ingin untuk menjadi seorang yang alim, dan bukan termasuk dari bab kewajiban yang diharuskan.”

Al-Khathib Al-Baghdadi berkata:
“Semestinya seorang penuntut ilmu memulai dengan menghafal Kitabullah k, di mana itu merupakan ilmu yang paling mulia dan yang paling utama untuk didahulukan dan dikedepankan.”

Al-Hafizh An-Nawawi berkata:
“Yang pertama kali dimulai adalah menghafal Al-Qur’an yang mulia, di mana itu adalah ilmu yang terpenting di antara ilmu-ilmu yang ada. Adalah para salaf dahulu tidak mengajarkan ilmu-ilmu hadits dan fiqih kecuali kepada orang yang telah menghafal Al-Qur’an. Apabila telah menghafalnya, hendaklah waspada dari menyibukkan diri dengan ilmu hadits dan fiqih serta selain keduanya dengan kesibukan yang dapat menyebabkan lupa terhadap sesuatu dari Al-Qur’an tersebut, atau waspadalah dari hal-hal yang dapat menyeret pada kelalaian terhadapnya (Al-Qur’an).”

(An-Nubadz fi Adabi Thalabil ‘Ilmi hal. 60-61)

sumber: http://www.asysyariah.com/syariah/permata-salaf/462-hafalkan-al-quran-terlebih-dahulu-permata-salaf-edisi-50.html

Kini Ku Menjauh

Artikel COPAS... 

Semua bermula,
Ketika komentar pertamaku melayang di journalmu.
Komentar yang biasa kulakukan setiap kali berkunjung pada teman lainnya.
Its normal buddy..,

Kau berbicara dengan bahasamu.
Aku suka dengan caramu.

Aku lupa..,
Siapa yang lebih dulu, meng-invite as friend..

Entahlah,
Tak terlalu penting bagiku..

--------------------

Suatu hari kau menyapaku melalui meebo, Chatbar Multiply.
Just say hello..
Basa-basi, biasa.
Obrolan singkat tak bermakna.
Yang berujung berbagi ID-YM.

Sejak itu, obrolan berlanjut via YM.

Berkenalan,
Aktifitas apa?
Kuliah di mana?
Jurusan apa?
Semester berapa?
Dan lain-lain...

Hari berganti minggu,
Minggu berganti bulan,

Beberapa bulan interaksi secara maya,
Dunia nyata mempertemukan.
Betapa rasa menyatukan.

---------------------

Pikirku,
Sudah terlewat batas,
Komunikasi melampaui tak berpola,
Hal-hal yang seharusnya tak dibicarakan,
Selalu menjadi bahan yang asik tuk diperbincangkan..

Tak kenal waktu,
berjam-jam menatap monitor,
tidak pagi,
tidak siang,
tidak malam,
Dini hari hingga subuh sekalipun..

Rasa yang seharusnya tak hadir,
Kini mulai merasuk,
Perlahan..
Pasti.
Melalui sela-sela..

Entah apa namanya..

------------------

Ma'afkan, kini aku menjauh..

Bukan maksud memutus ukhuwah,
Ku hanya butuh waktu,
Yang entah sampai kapan,
Sekedar membuang,
Penyakit..

Penyakit hati.

Kau ku-remove,
Kau ku-blokir,
Tak lagi ada komunikasi,
Tak ada lagi relationship,
Multiply,
Facebook,
Yahoo Messenger,
Semua akunmu ku-blokir..

Semua celah harus kututup,
Sms darimu enggan ku-reply..

Ma'afkan aku,
Kini aku menjauh,.

------------------

Dulu, setiap kau berkomentar di journal,
Hati selalu berdesir,

Dulu, setiap namamu muncul di pojok kanan bawah "She is now Online"
Hati selalu berdesir,

Dulu, setiap kau update status,
Hati selalu berdesir,

Dulu, setiap berjumpa di thread orang,
Hati selalu berdesir..

------------------

Aku tak paham dengan semua ini..
Salahkah kumenanti?
Haruskah kumenyendiri?
Lagi?

Sungguh,
aku tak paham..

------------------

Aku..,
Kuputuskan untuk menyendiri,
Menyendiri dalam diam,
Diam dalam tangis,
Tangis dalam ketakutan,
Ketakutan akan keberadaanNya.
Sang Maha Mengetahui..
As Sami'..
Al Bashir..

HambaMu lemah,
HambaMu fakir,
Beri aku kesempatan,
Beri aku ampunan..

------------------

Teruntuk kau yang di sana, 

Ma'afkan aku..
Kini aku menjauh..

------------------

Aku tahu,
Kau tak lagi mungkin membaca catatanku ini,
Posting ini ku-set for contacts,

Dan memang bukan itu yang kuharapkan..

Ku hanya ingin mengingatkan pada yang lain,
Agar tak terulang hal serupa,
Just It..

------------------

Kini aku menjauh...

------------------

Sabtu, 09 Juli 2011

Allah, Berikan Kami Pertemuan yang Indah

Allah, berikan kami pertemuan yang indah...
do'a ini ku ukir untuk saudara-saudaraku di jalan Allah
saudaraku nan jauh di sana
saudaraku yang tak kenal letih memperjuangkan agamaMu
saudaraku yang ingin menjadi penjaga ayat-ayatMu
saudaraku yang belum pernah ku peluk tubuhnya
saudaraku yang mengharap pertemuan ini

ketika ku ingat parasnya lewat bayangan semu
setiap kubaca segumpal penyemangat yang mereka berikan
saat menyendiri mengingat ayat-ayatMu
di waktu-waktu do'aku
ditemani jatuhnya butiran air mata aku selalu berharap,
Allah, berikan kami pertemuan yang indah
agar kami dapat merasakan hangatnya pelukan ukhuwah
agar kami dapat saling bercerita indahnya perjuangan
agar kami lebih semangat berikhtiyar menggapai cita-cita tertinggi di bawah ridhoMu

Allah, jadikan kami segolongan hamba yang senantiasa dalam syari'atMu

sungguh aku mencintai mu saudara-saudaraku >,<

Sabtu, 23 April 2011

CARA MUDAH MENGHAFAL AL QUR’AN



CARA MUDAH MENGHAFAL AL QUR’AN yang ditulis oleh Syeikh Abdul Muhsin Al-Qasim. Beliau adalah Imam dan Khatib di Masjid Nabawi. Semoga Artikel kali ini bermanfaat dan dapat menambah semangat kaum Muslimin untuk dapat menyelesaikan hafalan Al Qur’an yang mulia. Selamat mencoba.

الحمد لله والصلاة والسلام على نبينا محمد ، وعلى آله وصحبه أجمعين

Berikut adalah metode untuk menghafal Al-Quran yang memiliki keistimewaan berupa kuatnya hafalan dan cepatnya proses penghafalan. Kami akan jelaskan metode ini dengan membawa contoh satu halaman dari surat Al-Jumu’ah:

1. Bacalah ayat pertama sebanyak 20 kali :

سَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

2. Bacalah ayat kedua sebanyak 20 kali:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

3. Bacalah ayat ketiga sebanyak 20 kali:

وَآَخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

4. Bacalah ayat keempat sebanyak 20 kali:

ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

5. Bacalah keempat ayat ini dari awal sampai akhir sebanyak 20 kali untuk mengikat/menghubungkan keempat ayat tersebut

6. Bacalah ayat kelima sebanyak 20 kali:

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

7. Bacalah ayat keenam sebanyak 20 kali:

قُلْ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ هَادُوا إِنْ زَعَمْتُمْ أَنَّكُمْ أَوْلِيَاءُ لِلَّهِ مِنْ دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

8. Bacalah ayat ketujuh sebanyak 20 kali:

وَلَا يَتَمَنَّوْنَهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ

9. Bacalah ayat kedelapan sebanyak 20 kali:

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

10. Bacalah ayat kelima sampai ayat kedelepan sebanyak 20 kali untuk mengikat/menghubungkan keempat ayat tersebut

11. Bacalah ayat pertama sampai ayat kedelepan sebanyak 20 kali untuk menguatkan/meng-itqankan hafalan untuk halaman ini

Demikianlah ikuti cara ini dalam menghafal setiap halaman Al-Qur’an. Dan janganlah menghafal lebih dari seperdelapan juz dalam setiap hari agar tidak berat bagi anda untuk menjaganya.

Bagaimana cara menggabungkan antara menambah hafalan dan muraja’ah?

Janganlah anda menghafal Al-Quran tanpa proses muraja’ah/pengulangan. Hal ini dikarenakan jika anda terus menerus menambah hafalan Al-Quran lembar demi lembar hingga selesai kemudian anda ingin untuk mengulang kembali hafalan anda dari awal maka hal itu akan berat dan anda dapati diri anda telah melupakan hafalan yang lalu. Oleh karena itu, jalan terbaik (untuk menghafal) adalah dengan menggabungkan antara menambah hafalan dan muraja’ah.

Bagilah Al-Quran menjadi 3 bagian dimana setiap bagian terdiri dari 10 juz. Jika anda menghafal satu halaman setiap hari, maka ulangilah 4 halaman sebelumnya sampai anda menghafal 10 juz. Jika anda telah mencapai 10 juz, maka berhentilah selama sebulan penuh untuk muraja’ah dengan cara mengulang-ngulang 8 halaman dalam setiap harinya.

Setelah sebulan penuh muraja’ah, maka mulailah kembali untuk menambah hafalan yang baru baik satu atau dua halaman setiap harinya tergantung kemampuan serta barengilah dengan muraja’ah sebanyak 8 halaman dalam sehari. Lakukan ini sampai anda menghafal 20 juz. Jika anda telah mencapainya, maka berhentilah dari menambah hafalan baru selama 2 bulan untuk mengulang 20 juz. Pengulangan ini dilakukan dengan mengulang 8 halaman setiap hari.

Setelah 2 bulan, mulailah kembali menambah hafalan setiap hari sebanyak satu sampai dua halaman dengan dibarengi muraja’ah/pengulangan 8 halaman sampai anda menyelesaikan seluruh Al-Qur’an.

Jika anda telah selesai menghafal seluruh Al-Qur’an, ulangilah 10 juz pertama saja selama satu bulan dimana setiap hari setengah juz. Kemudian ulangilah 10 juz kedua selama satu bulan dimana setiap hari setengah juz bersamaan dengan itu ulangilah pula 8 halaman dari 10 juz pertama. Kemudian ulangilah 10 juz terakhir selama satu bulan dimana setiap hari setengah juz bersamaan dengan itu ulangilah pula 8 halaman dari 10 juz pertama dan 8 halaman dari 10 juz kedua.

Bagaimana cara memuraja’ah/mengulang Al-Quran seluruhnya jika saya telah menyelesaikan system muraja’ah diatas?

Mulailah dengan memuraja’ah Al-Qur’an setiap hari sebanyak 2 juz. Ulangilah sebanyak 3 kali setiap hari hingga anda menyelesaikan Al-Qur’an setiap 2 minggu sekali. Dengan melakukan metode seperti ini selama satu tahun penuh, maka –insya Allah- anda akan dapat memiliki hafalan yang mutqin/kokoh.

Apa yang harus dilakukan setelah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dalam satu tahun?

- Setelah setahun mengokohkan hafalan Al-Qur’an dan muraja’ahnya, jadikanlah Al-Qur’an sebagai wirid harian anda sampai akhir hayat sebagaimana Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjadikannya sebagai wirid harian. Adalah wirid Rasulullah dengan membagi Al-Qur’an menjadi 7 bagian sehingga setiap 7 hari Al-Qur’an dapat dikhatamkan. Berkata Aus bin Hudzaifah رحمه الله: Aku bertanya pada sahabat-sahabat Rasulullah – صلى الله عليه وسلم – tentang bagaimana mereka membagi Al-Qur’an (untuk wirid harian). Mereka berkata: 3 surat, 5 surat, 7 surat, 9 surat, 11 surat, dan dari surat Qaf sampai selesai. (HR. Ahmad). 

Yaitu maksudnya mereka membagi wirid Al-Quran sebagai berikut:

- Hari pertama: membaca surat “al fatihah” hingga akhir surat “an-nisa”,
- Hari kedua: dari surat “al maidah” hingga akhir surat “at-taubah”,
- Hari ketiga: dari surat “yunus” hingga akhir surat “an-nahl”,
- Hari keempat: dari surat “al isra” hingga akhir surat “al furqan”,
- Hari kelima: dari surat “asy syu’ara” hingga akhir surat “yaasin”,
- Hari keenam: dari surat “ash-shafat” hingga akhir surat “al hujurat”,
- Hari ketujuh: dari surat “qaaf” hingga akhir surat “an-naas”.
Wirid Rasulullah – صلى الله عليه وسلم – di singkat oleh para ulama dengan perkataan: فمي بشوق (famii bisyauqi). Dimana setiap huruf dari kata ini merupakan surat awal dari kelompok surat yang dibaca setiap hari.

Bagaimana membedakan antara ayat-ayat mutasyaabih/mirip di dalam Al-Qur’an?

Cara yang paling afdhal jika anda mendapati 2 ayat yang mirip adalah dengan membuka mushaf pada setiap ayat yang mirip tersebut, lalu perhatikanlah perbedaan diantara kedua ayat tersebut kemudian berikanlah tanda yang dapat mengingatkan anda akan perbedaan itu. Lalu ketika anda memuraja’ah, perhatikanlah perbedaan yang anda tandai sebelumnya beberapa kali hingga anda mantap menghafal tentang kemiripan dan perbedaan diantara keduanya.

Kaidah-kaidah dan batasan-batasan dalam menghafal Al-Qur’an

o Wajib bagi anda menghafal dengan bantuan seorang ustadz/syeikh untuk membenarkan bacaan anda

o Hafallah 2 halaman setiap hari. Satu halaman setelah Subuh, dan satu halaman lagi sesudah Ashar atau sesudah Maghrib. Dengan cara ini, maka anda akan mampu menghafal Al-Qur’an seluruhnya dengan mutqin/kokoh dalam waktu satu tahun. Adapun jika anda menambah hafalan diatas 2 halaman setiap hari maka hafalan anda akan lemah disebabkan semakin banyaknya ayat yang harus dijaga..

o Hendaklah menghafal dari surat An-Naas sampai Al-Baqarah karena hal tersebut lebih mudah. Namun setelah selesai menghafal seluruh Al-Quran, hendaklah muraja’ah anda dimulai dari surat Al-Baqarah sampai An-Naas

o Hendaklah menghafal dengan menggunakan satu cetakan mushaf karena hal ini dapat menolong anda dalam memantapkan hafalan dan meningkatkan kecepatan dalam mengingat posisi-posisi ayat serta awal dan akhir setiap halaman Al-Qur’an.

o Setiap orang yang menghafal dalam 2 tahun pertama biasanya masih mudah kehilangan hafalannya. Masa ini dinamakan dengan Marhalah Tajmi’ (fase pengumpulan). Janganlah bersedih atas mudahnya hafalan anda hilang atau banyaknya kekeliruan anda. Karena memang fase ini merupakan fase cobaan yang sulit. Dan waspadalah, karena syaithan akan mengambil kesempatan ini untuk menggoda anda agar berhenti dari menghafal Al-Qur’an. Maka janganlah perdulikan rasa was-was syaithan tersebut dan teruskan menghafal karena sesungguhnya itu adalah harta yang sangat berharga yang tidak diberikan pada setiap orang.



Sumber : http://salafiyunpad.wordpress.com/2009/08/05/cara-mudah-menghafal-al-quran/