“Menulis adalah nikmat termahal yang diberikan oleh Allah, ia juga sebagai perantara untuk memahami sesuatu. Tanpanya, agama tidak akan berdiri, kehidupan menjadi tidak terarah...” Qatâdah, Tafsîr al-Qurthûbî

Selasa, 15 Desember 2015

Selasa, 08 Desember 2015

Nyanyian Rindu

Siang ini terlihat mendung.
Awan menggelayut malu menutup cahaya sayu.
Seluruh langit menjadi biru.
Aku duduk bersandar menyaksikan bumi ibu.
Hey, ada kau di situ!
Kaukah itu?
Ah! rupanya hanya bayang semu.

Kau tau?
Aku rindu.
Bagai pohon kering tak pernah bertemu, hujan deras di siang haru.

Lalu aku terbangun, kau tlah pergi dimakan  ragu.
Ternyata aku benar-benar tak bertemu.
Tanpamu pada akhirnya rapuh jiwaku.
Aku terdiam, aku membatu.

Oh hujaan, dendangkan padaku tetesan air nyanyian rindu.



https://soundcloud.com/fatkhul-tsani-rohana/rindu-pelangi-sherina
Desember, 8th, 20015 

Sabtu, 05 Desember 2015

Cerita Mboh



Bismilillaah…

Rabu lalu  aku menjadi panitia sebuah konferensi internasional. Pesertanya dari berbagai negara dan jenjang pendidikan, Indonesia, Singapore, Italia dan lain sebagainya, dengan tingkat pendidikan SMA hingga magister. Tak usah takjub dalam-dalam wong aku cuma “a gabut committee” alias panitia nganggur haha. Empat panitia dari UIN, Islah, Mas Lahiq, Mas Hudi, Mas Ardi dan aku sendiri. Jadilah tak diragukan lagi, aku satu-satunya panitia wanita dari UIN. 70an panitia lainnya dari UGM kebanyakan. Sore itu sudah mulai terasa crowded di lokasi opening, Convention Hall UIN Jogja. Panitia sudah rapi dengan dresscode mereka hitam putih. Aku masih buluk sekali, seharian membantu lari sana sini berurusan dengan rektorat dan jurusan IAT UIN, rencana pulang pondok untuk meng ganti pakaian gagal. 

Saat keluar CH berniat untuk sarapan di waktu menjelang maghrib (karena benar-benar tak sempat makan), ketua panitia terlihat kebingungan. Mbak Ucun panggilannya. Ia berusaha menghubungi dosen UIN menanyakan perihal welcoming speech tapi tak  ada pulsa. Karena hp ku sedang tak sehat, akhirnya kupinjamkan sim card  berisi pulsa 10ribu-an. Di tengah menunggu telp diangkat, mbak Ucun melihat salah satu panitia memakai celana hitam dan atasan biru, “Ya Allaah, kok biru kae sopo” (Ya Allah, kok biru itu siapa), raut wajahnya terlihat kecewa sebab ada  panitia memakai wrong dresscode. Duh, padahal aku sendiri juga tidak membawa atasan putih. 

Usai sholat maghrib, aku jadi kepikiran, kasihan mbak Ucun jika tahu aku juga tidak memakai dresscode. Keluar dari masjid aku menuju distro belakang UIN untuk membeli sepotong atasan putih bermotif bunga-bunga. Di ruang ganti aku pakai sekaligus agar tidak bolak-balik ke kamar mandi. “Mbak ini saya pakai langsung ya, buru-buru soalnya hehe” jelasku pada penjaga distro, “iya mbak nggak papa”, dua gadis penjaga ketawa sendiri melihat kelakuanku.
Perjalan dari distro ke CH, aku melewati berbagai warung makan rasanya puingin makan tapi rasa hati mengganjal karena ada salah seorang teman yang mengajak makan bersama. Akhirnya saya tetap mampir ke warung membeli  3 es jeruk untuk teman panitia sesama UIN tanpa memesan makanan karena tak tega membayangkan mereka kelaparan dan aku kenyang. 

Tibanya di CH, teras sudah mulai sepi karena panitia telah masuk ruangan menempatkan diri di spotnya masing-masing. Aku memilih duduk sendirian di teras sembari menikmati sebungkus es jeruk, dua bungkus lainnya masih terbungkus rapih di kantong plastik. Belum ada separuh es jeruk kuteguk, aku masuk CH untuk suatu urusan. Deg! Melihat seorang teman yang mengajakku makan bersama tangannya kotor penuh minyak bekas pulukan makan tentunya. Hatiku langsung perang dingin “sabar Hanaa, tenaang”. Bagaimana tidak, pikirku dia tidak akan makan tanpa aku. Apalagi dengan keadaan orang-orang yang tak pernah kukenal , makan bersama dengan orang yang sudah dikenal pasti lebih nyaman. Ok, tak apa, sudah terlanjur.
Opening dimulai, aku memasuki ruang CH. Panitia bergerombol dengan kelompok tugasnya, LO dengan LO, perkap dengan perkap, konsumsi dengan konsumsi dan seterusnya. Aku lagi-lagi memilih sendiri di kursi paling pojok. Kelompokku hanya dari UIN itupun mereka semuanya laki-laki. Tak mau berharap lebih dapat wira-wiri bersama mereka. Alone is better hehe.

Usai acara selesai, ada seorang panitia dari UIN jalan di sela-sela fix chairs CH, tentu dia melihatku, tapi menyapa saja tidak. Lalu aku kembali menikmati kesendirian, si do’i lewat lagi di samping tempat dudukku, “Eh, Hana” lalu pergi begitu saja. Baiklah, 2 es jeruk yang niat kuberikan tadi sepertinya bernasib mencair dan membasi haha.

Perasaanku sudah tidak tenang, di CH memang sudah selesai, tapi panitia sibuk dengan tugasnya, aku sebagai panlok UIN sepertinya belum begitu dibutuhkan, teringat pula banyak urusan pondok yang harus diselesaikan, daripada menganggur sendiri akhirnya aku pamit pulang. Tentu dengan perut kosong dan kekecewaan 2 bungkus es jeruk.

Esoknya adalah main conference yang dihela di Convention Hall lagi. Pesertanya bukan hanya dari peserta full conference dari berbagai negara tapi peserta pendaftar yang hanya mengikuti konferensi satu hari saja. Dari pondok sudah kurencanakan untuk membantu agak siang, sebab paginya aku ingin mengerjakan tugas dan kuliah. Pukul tujuh lebih di tengah proses menyelesaikan tugas di perpus pusat, aku mendapat sms dimintai tolong menemani salah seorang panitia menjemput Rektor. Kuputuskan membolos dan tidak mengumpulkan tugas. 

Hari itu sebagai panlok (panitia lokasi) UIN setidaknya aku masih bisa berdaya. Agak siang aku ijin kepada ketua public relation karena ingin hati mengisi absensi kuliah. Setelah sholat dhuhur di pasca sarjana aku lari menuju fakultas. Kupikir telambat, ternyata jam masuk kuliah diundur dan aku tak bisa melihat informasi tersebab keadaan hp yang sedang sakit. 

Kuliah pun usai, sore hari di bawah guyuran hujan aku kembali ke CH. Ruangan sepi, peserta full conference telah masuk ruangan gedung rektorat untuk melakukan paper presentation. Ada satu panitia UGM yang aku kenal baik masih di CH, Mas Ato, “Mas, ada yang bisa tak bantu?” tanyaku sebagai panitia pengangguran. Akhirnya aku mendapat kerjaan mengarahkan peserta ke gedung rektorat.

Aku dan dua peserta berjalan meninggalkan Mas Ato, di tengah perjalanan buru-buru menghindari hujan, kami sempat ngobrol sedikit. Satu laki-laki berpawakan tinggi dan kekar yang berada di belakangku adalah keturunan Indonesia Arab. Dia pernah tinggal di New York dan baru enam bulan tinggal di Indonesia. Satu lagi seorang gadis SMA berambut lurus sebahu asli Indonesia pernah mengikuti YES exchange di Amerika selama setahun. Perkenalan singkat itu kami akhiri karena telah sampai di mulut pintu ruang paper presentation. “Ok, you can enter here. Good luck for your presentation”, tutupku.

Sebelum maghrib aku memaksakan diri harus ke perpustakaan mengerjakan tugas yang kemarin tak jadi kukumpulkan. Tapi karena beberapa urusan, jadilah wira-wiri perpus dan CH. Merasa sangat tidak efisien, pupus harapan melembur di perpus, tas ajaib berisi seluruh peralatan sholat, sabun, laptop lengkap dengan charger kuboyong ke CH. 

Pukul tujuh lebih aku kembali lagi ke perpus, benar-benar ingin segera menyelesaikan tugas. Sampai di depan lobi, terlihat petugas perpus telah memakai jaket masing-masing, ada yang sedang sibuk mematikan komputer, bahkan ada yang sudah lengkap memakai helm menenteng tas kecil siap pulang ke rumah. Alamaaaaak, taqdir nya memang Allah belum mengijinkan mengerjakan tugas. Di pondok jelas aku tak bisa karena tugas yang satu ini membutuhkan sinyal internet super cepat  untuk buffering youtube. Aku menyetir motor kencang, berharap masih bisa mengikuti rutinan diba’an malam jum’at.

Alahmdulillah, sampai pondok jam 8 kurang. Diba’an belum dimulai. Kusempatkan merebahkan tubuh sebentar. Lalu menghadiri majlis rutin tersebut di musholla komplek.

Selesainya diba’an, aku cuci muka, gosok gigi dan langsung nyungsep di atas kasur. Sekitar pukul satu dini hari aku terbangun, teman satu kamar bernama Silma batuk tak henti-henti hingga muntah. Tak lama, hpku menerima sebuah sms, Rahma menanyakan obat muntah. Kujawab aku tak punya. Sms kedua mengerikan, “reneo aku wes ra kuat” (kemarilah aku sudah tidak kuat). Langsung aku beranjak dari tempat tidur menyabet jaket di gantungan belakang pintu dan dompet. Ada dua kemungkinan, aku harus keluar untuk beli obat atau mengantar Rahma saudara kembarku ke rumah sakit. Gedung Rahma yang terletak tepat di samping gedung kamarku membuat aku tak lama menuju kamarnya. Terlihat dia sudah sangat lemas dan merintih kesakitan. Aku langsung menelpon ibu dan segera ibu menanyakan beberapa nama obat cadangan. Di saat-saat seperti inilah aku merasa betapa kerennya Ibu sebagai dosen Akbid poltekes, sebab dulu setamat SMA aku disuruh melanjutkan kuliah di sana tapi tak ada sedikitpun ketertarikan kesana. Bahkan terkesan mengentengkan jurusan kesehatan, duh.

Baik, obat cadangan aku tak punya, akhirnya segera kupercepat langkah menuju parkiran depan masjid utama untuk mengambil motor. Terlihat pukul satu dini hari seorang Habib menantu Gus Endar dan Kyai Najib mengobrol di depan teras rumah. Ya Robb, malunya aku seorang santri putri tengah malam keluar membawa motor pula. Telah menjadi kebiasaan, setelah menuntun motor menjauhi ndalem Bu Nyai, aku baru bersiap menstarter motor. “Bismillaah Ya Allah, paring lancar lan slamet”, batinku.

Setelah melewati 2 gang pondok, aku sampai di ruas jalan utama, terlihat beberpa santri putra bersarung jalan-jalan sambil mengobrol santai. Mungkin memang mereka sedang mencari udara malam atau sekedar memenuhi amanah jaga keliling. Entahlah. 

Kugas motor sekencang-kencangnya sambil membayangkan rute apotik K-24 yang sudah pasti buka 24 jam. Sebelum sampai ke apotik, kutemukan sebuah IGD masih beroperasi, aku tanya kepada salah satu perawat megenai pembelian obat, tapi ternyata mereka tak bisa melayani. Lalu kuceritakan kondisi saudara kembarku yang sedang kritis di pondok. Sang perawat menyarankan untuk dibawa ke UGD rumah sakit. Kemudian kutanya lagi di mana dapat kutemui taxi yang biasa mangkal di dekat sini. Tepat seperti pikiranku, daerah kampong bule tak jauh dari pondok. Langsung kutancap gas menuju pemangkalan taxi. Oh dunia malam, saya cuma bisa istighfar dan mohon keselamatan. Bagaimana tidak, hura-hura diberbagai sudut, ada yang minum hingga kliyengan, ada yang sekedar nongkrong merokok sambil mensiuli pengendara motor memakai rok lebar, aku. 

Ketemu! Kuketuk jendela taxi,setelah bangun dan mengumpulkan nyawa, dengan bahasa kromo inggil kupinta sopir segera mungkin mengikutiku menuju pondok menjemput Rahma.
Sampai di pondok kupakaikan rok dan jaket, Si Rahma begitu lemas, dia terus merintih sambil menyandarkan tubuhnya. Aku bopong segera ke dalam taxi. Kusuruh teman sekamarnya menyiapkan satu kresek kalau nanti sekiranya dia ingin muntah di taxi, sebuah tas ransel kupinta untuk diisi satu stel baju tidur, under wear dan mukena. Siapa tau  Rahma harus di rawat inap, melihat kondisinya yang sangat tak berdaya. Ternyata sudah 3 jam ia muntah terus menerus tanpa bercerita pada teman sekamarnya.

Sambil terus menyandar ditubuhku, Rahma kupinta memakai sandal terlebih dahulu. Ada puluhan sandal tanpa pasangan di hadapan, jelas semua adalah sandal hasil ghoshob. “Ya Allaah niki dhorurot, kulo ngghoshob setunggal kagem Rahma” (Ya Allah, ini darurat, saya ngghoshob sandal satu untu Rahma), niatku. Karena tak mungkin aku harus mencari dahulu sandal Rahma yang entah di mana Ia meletakkan. Kagetku, dengan keadaan yang sudah benar-benar kritis seperti itu dia masih bisa memilih sandal, kakinya diarahkan ke kanan, menolak sandal ghoshob warna hijau di kanan dan putih di kiri pilihanku itu. Rupanya rahma memilih sandal Mbak Bontot temanku satu lantai yang masih utuh dengan pasangannya. Perjalanan dari gedung Rahma menuju taxi, kami melewati parkiran dan tentu gedung pondokku. Pas! Ada Mbak Bontot juga ikut terbangun dan melingukkan kepala keluar pintu. “Mbaaak aku ngampil sandalmu” (Mbaak aku pinjam sandalmu), ijinku. Akhirnya sandal yang dipakai Rahma halal haha.

Sampainya di UGD, Rahma di suntik lengannya. Aku registrasi di lobi dan Mbak Umi yang sedari tadi menemani dan mengikuti menggunakan sepeda motor, menjaga Rahma. Beberapa menit aku mengurusi adminitrasi dan menebus obat, terakhir kutanya dokter apa perlu rawat inap saudara kembar saya ini, ternyata tidak. Langsung kucarikan taxi, Rahma dan Mbak Umi pulang menggunakan taxi, aku mengendarai sepeda motor sekaligus mampir ke swalayan. 

Keadaan Rahma langsung membaik, tak lagi muntah, sudah mulai mau bicara dan tidak lagi merengek haha. Setelah disuapi teh hangat, roti dan minuman ber-ion, dia kutinggal kembali ke kamar. Setengah tiga pagi, aku putuskan untuk mandi dan sholat malam.

Alhamdulillaah, malam ini begitu panjang..


Yogyakarta, December 5th, 2015

Jumat, 11 September 2015

Sang Fakir Mengemis Do'a


Kitab Maroqil ‘Ubudiyyah karya Muhammad Nawawi Al-Jawi semoga Allah merohmatinya, merupakan penjelasan dari kitab Bidayatul Hidayah karya Imam Ghozali. Mengupas mengenai thoharoh (bersuci) dan sholat, hakikat ibadah puasa, penjagaan diri dari bermacam maksiat, tuntunan pergaulan manusia dengan Sang Kholiq dan sesama muslim, adab-adab seorang ‘alim, adab anak terhadap orang tua, serta adab-adab yang lainnya yang patut diamalkan oleh setiap muslim. Harganya tidak mencapai lima ribu rupiah, tebalnya mungkin kurang dari 0,5 sentimeter, cover pun biasa saja, judul dengan tulisan font arab dihiasi bingkai bunga-bunga di setiap titiknya, dan tentu saja dengan kertas berwarna kuning kecoklatan ciri khas kitab kuning ala pesantren-pesantren salafiyyah. Sangat berbeda dengan buku-buku kebanyakan jaman sekarang, serba mewah, warna mencolok, serta harga yang relatif lebih mahal. Namun ada beberapa alasan mendasar mengapa Sania lebih memilih kitab kuning daripada buku-buku islam kebanyakan jaman sekarang, pertama kitab kuning disusun oleh ulama’ dan para imam yang sudah pasti ilmu dan adab kesehariannya dapat dipertanggung jawabkan, tak hanya itu, cerita dari Sang Ayah betapa maqom para ‘alim sangat dekat dengan Allah membuat gadis berjilbab lebar itu semakin jatuh hati. Kedua, sanad ilmu yang dimiliki sudah barang tentu sampai Rosulullah, ke atas lagi Malaikat Jibril hingga Allah ‘Azza wa Jalla. Ketiga, riyadhoh keikhlasan Sang Pengarang tak dapat diragukan lagi. Terukir sebuah kisah di mana ulama’ terdahulu setiap akan menulis senantiasa mensucikan raga dan hati dengan wudhu, menghadapkan diri ke arah kiblat, menghilangkan seluruh faktor penyebab kotornya jiwa serta mengawali dengan menyebut nama Sang Pemilik Jagad Raya. Bahkan ketika karya telah tercipta, ada Shohibul Karya yang memohon ridho pada Penggenggam Kehidupan dengan berdo'a, “Ya Allah bila karyaku ini tak dapat bermanfaat bagi umat manusia kelak, maka hancurkan ia dalam riuk sungai, namun apabila Engkau ridho karyaku ini dapat bermafaat bagi seluruh umat, maka biarkan ia kembali lagi,” lalu tumpukan kertas itupun dilemparkannya ke tengah sungai. Kesucian hati, ikhlas serta tawadhu' diri inilah yang membuat kitab kuning sebagai buah karya para ahli ilmu dapat eksis dari ratusan tahun yang lalu hingga sekarang. Maka disaat Sania mempertanyakan suatu hukum, yang pertama Ia cari adalah (minimal) terjemahan kitab kuning, meski dengan package yang super duper sederhana.

Belajar dari pengalaman kehidupan, Sania pun mendapatkan jawaban mengapa buku-buku yang tertata rapih di mall, di toko-toko dengan pencahayaan gemilau, tak bertahan lama, yaa paling mentok sepuluh hingga dua puluh tahun, setelah itu pasti akan digusur dengan buku-buku kontemporer senada, sangat berbeda dengan kitab kuning dengan ratusan tahun usia bertahannya, hanya terpajang di etalase biasa tanpa back sound musik-musik kota, mampu memberi cahaya keilmuan sepanjang masa.

Di atas adalah dua penggal paragraf kutipan dari halaman ke 3 tulisan saya tentang gadis remaja bernama Sania yang sekarang tengah dalam proses penggarapan, mohon do'a dan hadiah Fatihah saudara/saudari sekalian semoga dalam menulis dipermudah dan diberi petunjuk oleh Allah hingga akhirnya menjadi karya yang bermanfaat. 'Alaa hadzihin niyah wa 'alaa kulli niati sholihah, al-faatihah...


Yogyakarta, Jumu'ah Sayyidul Ayyam, 26 Dzulqo'dah 1436 H

Selasa, 25 Agustus 2015

Buah Pengganti Jambu

Siang ini aku menangis, bukan tersebab berita duka atau hilangnya orang tercinta. Namun karena ni’mat Allah yang terlalu besarnya. Sangat besar. Sungguh besar. Tak tau lagi bagaimana mengungkapkannya. It so very hard to explain.

Beberapa hari yang lalu pagi sekali aku ke pasar dengan seorang adek pondok mengambil pesanan kerupuk satu ball untuk lauk sekamar. Kami anggota el-Cholil patungan tiga ribu guna membeli kerupuk itu, tentu sangat efisien cara ini, yang biasanya keluar sore beli lauk, sekarang tidak pernah karena sudah tersedia teman makan kriuk-kriuk. Tujuan lain ke pasar Prawirotaman (nama pasar tsb) adalah mencari buah favorit aku jambu biji. Bukan karena rasanya paling enak di antara buah-buah lainnya, tapi karena termasuk buah yang mudah di dapat (bukan buah musiman), harganya sesuai kantong dan tidak cepat busuk. Ya setidaknya dapat asupan vitamin meski hanya jambu. 

Belum rejeki aku, dua penjaja buah masing-masing memiliki stok jambu namun tak secantik biasanya. Aku pun mengurungkan niat.

Alhamdulillah esoknya diberi dua tomat Ibu Lotek langganan tiap hari. 

“iki di gowo tomat e”, sambil memasukkan dalam kantong plastik beserta sebungkus lotek dan kerupuk.
 
“mboten Buuuk, sampuuun, lah laah”, aku ngeyel. 

Pembelaanku tak berhasil, dua buah tomat segar nan ranum harus kubawa pulang.

“alhamdulillaah hahaha”, batinku.



Keesokan harinya aku kembali lagi membeli lotek, hampir tiap siang jika tak ada jadwal kuliah pasti aku ke sana. Bukan hanya ramuan bumbunya yang ni’mat, Ibu Lotek selalu ramah padaku, terasa Sang Ibu telah sukses berjualan syari’ah hingga membuat langganannya datang kembali. Teori marketing dan semacamnya berhasil Ibu aplikasikan meski tanpa belajar teori muluk-muluk. Aarrgh aku kalah, mahasiswi keuangan islam kalah jauuh.

Karena mengejar jama’ah dzuhur di masjid, aku hanya memesan dan mengambilnya usai sholat. Namanya juga perempuan, pasti mampir-mampir, selepas dari masjid aku masih menyempatkan diri ngobrol dengan teman selantai dahulu. Setelah itu aku keluar mengambil motor menjemput pesanan lotek yang pasti sudah jadi sedari tadi. 

“Buuuk, taksih? Nambah tigo kagem rencang kulo”, belum sempat turun dari motor aku sudah membuka percakapan ala orang-orang di kampungku.

“walaah telas e nduk. Ki lho resik”, aku menuju lemari kaca memeriksa sebuah baskom yang ternyata memang tinggal beberapa potong kecambah. 

“nggih pun, kalih welas nggih, niki”, aku membayarnya kontan.

“nggowo tomat maneh ya, ki”, lagi-lagi Ibu memindahkan 2 persediaan tomat dari lemari kacanya ke dalam kantong plastik lotek tanpa “iya” ku.

“mpuun, setunggal mawon Buk”, aku menawar.

“halah wes to, nyoh”, untuk kesekian kalinya Ibu ngueyel.

“nggih pun matur suwun, monggo Buk”, aku berbalik arah mengambil motor.

“Yo nduuk, makasih yaa”, jawab Ibu.

“Monggo Buk”, inilah orang jawa, berpamitan kurang afdhol kalau belum lebih dari sekali. Aku hilang di telan jalanan. 

 Sorenya usai dari jama’ah ashar di masjid aku mendapat pesan dari salah seorang Mas-mas sesama asal Magetan yang sedari pagi meminjam sepeda motorku untuk takziyah di Bantul. Kebetulan Masnya dulu pernah jadi pimred buletin Madani dan aku bersama kedua kembaranku adalah salah tiga tim redaksinya. Selain itu ternyata Ibunya adalah murid Ibuku semasa kuliah di poltekes Akbid Magetan, jadilah Ia tak asing dalam keluarga kita. Si Mas bermaksud mengembalikan motorku, ia menunggu di depan Bank BRI pinggir jalan sesuai instruksiku. Sampainya di tempat janjian, bersama soerang lelaki tak kukenal ia menanti di sebrang jalan. 

“makasih yaa, stnk ne tak dekek neng jok motor”, katanya.

“halah santai”, jawabku.

Langsung setelah memberikan kunci motor padaku, ia meneruskan perjalanan kembali (mungkin) ke Magetan bersama temannya itu.

Aku sendiri berencana menuju kantor pos nol km Malioboro untuk mengirim pesanan majalah al-Munawwir salah satu pelanggan dari Malang. Setelah itu mampir ke toko Joly membeli kado untuk adik sekamar, Frida panggilannya.

Usainya jalan-jalan sore, sampai di parkiran depan ndalem Bu Nyai kuperiksa bagasi motor, aku baru sadar ada kresek hitam di dalamnya, Ya Allaah isinya jeruk dan buah naga. 

Aku tak menyangka, dari bulan puasa lalu ingin beli buah naga sendiri namun belum kesampaian, melalui hambaNya Allah memberiku tanpa biaya dan usaha. Alhamdulillaah. 

Sedikit terbesit juga sehari sebelumnya ingin makan buah jeruk, karena bibir sudah mulai kering dan perih pertanda akan pecah-pecah. Masyaa Allah, lagi-lagi Allah kabulkan.

Aku bahagia bukan main, sampai pondok kubagikan pada cucu-cucuku, eh pada teman-temanku, anak kamar dapat jatah satu-satu, lainnya tiap kamar kujatah satu. Pas, satu kantong buah jeruk habis. 

Paginya (hari ini), aku tetiba ingin makan jeruk lagi, tapi jeruk saja aku sudah tak punya. Dua jam kemudian melalui Mami Nadia (tetangga kamar) Allah beri lagi satu jeruk untukku.

“Mbak Hanaa, nih Mami kasih jeruk satu buatmu”, sembari senyum renyah Mami memberikannya padaku.
Sedikit tidak enak rasanya karena di hadapan dua adek kamar, hanya aku yang di beri. Ya mau bagaimana lagi. 

Siang sebelum dhuhur Si Frida dan tetangga kamar pergi belanja ke swalayan, maka sebelum berangkat kuamanahi memesan lotek terlebih dahulu.

“hoee siapa yang mau titip suket lagi, tuh ke frida”, tawarku. Jadilah empat bungkus lotek minta diracikkan.
Ketika usai wudhu menuju kamar untuk siap-siap sholat dhuhur, terdengar suara pintu terbuka, Frida teriak dari kejauhan, “Mbaaak kambi Ibu’e diwenehi tomat maning, ki nggo mbak Hana, jare Ibu’e ngono hahaha”.

“Ya Allaah, tenane?! alhamdulillaah”, jawabku.

Sesaat setelah itu jantungku berdegub kencang, “Duh Gustii, sakkabehanipun puji kagem Panjenengan”. Beberapa hari berturut-turut Allah beri buah pengganti jambu. 

Aku buru ke masjid karena sudah iqomah, usai makmum mabuk, dan tiba saatnya wirid bersama, 

“Ilaahi yaa Robbi… subhanallah, subhanallaah… dst”, mata ku terpejam, mengingat betapa Maha Sucinya Allah dengan segalaa keagunganNya.

“Alhamdulillah, Alhamdulillah, alhamdulillaah… dst”, terbayang-bayang ni’mat Allah yang sungguh-sungguh besar selama ini. Setetes air keluar dari kelopak mataku. Aku mulai seseunggukan menangis. Tak sabar kudo’akan Ibu Lotek yang sudi mengasihi wanita berlumur hina ini.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allaahu Akbar… dst”, tak dapat kuungkapkan apa-apa. Aku tenggelam dalam syukur bersamaNya.

Usai Imam menuntaskan do’a jahrnya, seperti biasa kulayangkan fatihah untuk Kanjeng Nabi Muhammad, para Kyai, guru, dosen dan ustadz yang telah mengajariku banyak hal yang manfaatnya terasa hingga saat ini, lalu kelompok ketiga adalah keluarga besar, anak cucuku beserta suamiku kelak, lantas untuk beberapa hajatku dan spesial untuk Ibu Lotek. Kubayangkan wajahnya dalam-dalam, tanpa kata kuungkapkan pada Allah lewat bahasa batin, memohon Allah senantiasa menjaganya, memberi barokah dalam usianya dan selalu dilancarkan rizqinya. 

Aku pun berjalan kembali ke gedung pondok dengan mata basah menahan senggukan tangis tiada kira.



With tears,

Krapyak, 25th August, 2015, 14.49 WIB

Lara


segumpal daging lara rasa...
sang pemilik membawanya pergi beribadah ke rumah Tuhan...
tak kunjung reda malah tubuh bergidik dingin menyerpa...
mulut gemetar, seluruh bulu kuduk tegap tak seperti biasa...
apa ini Ya Allaah?
segumpal daging lara rasa...



Krapyak, 9.16 WIB

Kamis, 13 Agustus 2015

Dua Devi

Wajah-wajah itu tak pernah lupa dari ingatan. Si Tembem Devi dan Si Tukang Takjub Devi. Dua Devi. Kami jarang bertemu, kami tak sering mengirim pesan atau telepon untuk melepas rindu. Hampir semua kehangatan dalam pertemuan Allah yang menjadi penentu. Tak tau, sendiri di tengah terik matahari, atau melamun sejenak usai kuliah pagi, atau sore saat lelah melanda diri tiba-tiba saja dengan episode-Nya yang begitu indah, Allah pertemukan kami. Makan, bercanda, hingga mengutarakan ikhtiyar bersama demi menggapai mimpi, biasanya itu yang kami lakukan saat berkumpul.

Baik, kuperkenalkan dulu Devi Tembem, dia adalah anak paling manja dalam keluarga kecil ini. Kami sepakat memanggil tembem karena memang pipinya empuk bak kue bakpao. Ini juga memudahkan kami dalam membedakan dua sosok yang memiliki nama sama, Devi. Dan yang paling penting, Devi Tembem sangat legowo dan bahagia mendapat julukan seperti ini. Oya, mengapa Ia paling manja? Sebab selalu saja meminta tolong disertai rengekan, kurang percaya diri kalo sudah di hadapan dosen atau petugas administrasi. Sudah beberapa kali Devi Tembem mengutarakan keinginannya perihal masalah internalnya, “Mamiii, aku pokoknya harus dewasa, harus pemberani!”. Dia memiliki panggilan khusus untuk saya, Mami. Mungkin saya terlalu sering menempa hidupnya agar lebih dewasa, bahkan melebihi ibu kandungnya sendiri haha. “Udah ah nggak usah sok-sok’an”, jawabku canda. “Iiihh mami jahat”, aku pun tertawa bahagiaa. Tak jarang juga setiap gadis asli Jogja ini curhat atau bercerita suatu hal, selalu saya respon dengan ledekan atau sesuatu yang menjatuhkan (tentu tanpa menyakiti hatinya), berharap psikis dan emosinya semakin kuat dan tak mudah rapuh. Sebab indahnya suatu alam tak tercipta dari air yang tenang, pasti banyak tempaan yang ia terima sebelumnya. Selain itu saya rasa sikap yang seperti ini malah menjadi kenangan dan bumbu terbaik dalam sebuah hubungan (khususnya pertemanan).

Eits jangan salah, dibalik sifat kekanak-kanakannya Devi Tembem memiliki potensi luar biasa, Ia sering membawa nama baik Provinsi DIY dalam ajang MTQ melalui bakat suaranya. Di pondok pesantren komplek tahfidz Hindun, Krapyak, Jogjakarta, ia juga dikenal santriwati yang baik, tak jarang Bu Nyai nya sering mengajak Devi untuk sekedar nderekke dalam berbagai acara. Sebagai vokalis hadroh juga, Devi Tembem sudah mengisi puluhan acara dari khitan hingga walimahan. Bahkan sempat dia mengajak saya membuat grup music positive dengan salah satu pemegang alat music (piano) Teh Icha, salah satu putri Aa’ Gim yang kebetulan sama-sama mondok di Hindun. Konsep sudah matang, beberapa hari sebelum rencana meet up dengan Teh Icha, Devi Tembem lagi-lagi merengek, “Mamiiii, kabar buruk. Teh Icha udah boyong, dia mau nikah”. “Oya?! Alhamdulillah dong”, jawabku. “iiih Mamii, kita nggak jadi bikin grup musik dong”, gayanya persis anak kelas 3 SD, bikin gemes.

Lain lagi dengan Devi yang satunya, Devi bukan tembem. Dia anak yang suka takjub dan nggumunan. Tapi bukan sembarang nggumunan. Karena setiap yang ia dengar atau lihat, jika itu adalah cerita atau kabar yang membahagiakan, kalimat yang pertama kali ia lontarkan adalah kalimat thoyyibah, sekalipun itu bagi orang awam biasa saja, menurut Ia semua ni’mat adalah luar biasa. Devi paling senang jika saya berhasil mengerjai Devi Tembem, dia akan tertawa terbahak-bahak dan berkata “kalian itu Masya Allaah, lucu bangeet hahaha. Lagi Han, lagi..”.

Gadis kelahiran Brebes ini adalah anak Muhammadyah tulen, sekarang Ia tinggal di mu’allimat (salah satu lembaga tahfidz milik Muhammadyah) sebagai musyrifah. Namun dari awal bertemu hingga saat ini tak pernah kami risau atau berdebat kecil untuk masalah-masalah seperti ini. Karena memang persaudaraan ini terbentuk murni karena atas izin Allah, atas nama cinta *ciyee. Bahkan pernah Devi mendesak ingin sekali tidur bergiliran di pondokku dan di pondok Devi Tembem. Karena kebetulan pula pondok saya dan Devi Tembem hanya berjarak 3-4 rumah. Padahal ia tahu betul pondok kami adalah pondok NU yang didirikan oleh almarhum Kyai Munawwir –semoga Allah merohmatinya- dan menantu beliau, almarhum Kyai Ali Maksum –semoga Allah merohmatinya- jadi antara NU maupun Muhammadyah, kami saling mengisi saling menguatkan. Masya Allah.

Dari ketiga keluarga kecil kami, Devi ini yang paling sibuk. Ngajar sana-sini, pengurus kopma (koperasi mahasiswa) sejati, hingga bisnis mudhorobah atau usaha milik sendiri. Dan sekali lagi, di tengah kesibukan masing-masing selalu saja Allah pertemukan kami tanpa rencana dan tak terduga.

Dalam pertemuan tak terduga, makan atau sekedar minum es, biasanya kami saling menasihati, tapi bukan dengan bahasa orang tua masa kini, tentu dengan logat dan gaya anak muda, menggebu-gebu disertai tawa canda. Sekilas terlihat hanya sebuah percakapan biasa, namun jika mau menghadirkan hati, pertemuan ini bisa jadi bentuk amaliyyah ayat wa ta’awanu ‘alal birri wat taqwa.

Semoga Allah senantiasa menjaga kalian, Devi Astriyani dan Devi Kiki. 
 
Devi kiki - Devi Astriyani - Kanjeng Mami


Persahabatan itu sangat berharga
Tak terganti dengan banyaknya harta
Persahabatan tak kan terwujud tanpa kasih dan rasa cinta
Ketika tangan melingkar di pundak, terasa kasih sayang seorang teman
Ketika tangan tergenggam, jalinan kasih melangkah bersama
Oh temanku jangan lupakan aku
Islam telah mengajarkan umatnya tentang arti seorang sahabat, saling menolong dalam kebaikan

Persahabatan-Song special for "Dua Devi"
https://soundcloud.com/fatkhul-tsani-rohana/persahabatan 



With love,


Krapyak, Yogyakarta, Kamis, 13 Agustus, 2015. 12.19 WIB