“Menulis adalah nikmat termahal yang diberikan oleh Allah, ia juga sebagai perantara untuk memahami sesuatu. Tanpanya, agama tidak akan berdiri, kehidupan menjadi tidak terarah...” Qatâdah, Tafsîr al-Qurthûbî
Tampilkan postingan dengan label Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2012

Tetesan Emosi Cinta

         "Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal" QS. Al Anfal: 2

Apakah karena aku terlalu cinta dengan dakwah ini? Ataukah karena aku terlalu sayang dengan islam Ilahi? Hingga tak segan tangisan meruak tanpa bisa kukendali. Bukan hanya saat sunyi, namun ketika kubertemu manusia hebat pilihan Rabbi. Dan entah mengapa semua membuat otakku mengingat seluruh perjuangan para Nabi, dan segalanya kubandingkan dengan pengorbananku yang sangat kecil  sekali. Allah, hamba tak seistiqomah baginda Rasulullah, hamba tak seberani Umar bin Khattab, hamba tak setegar Nabi Ibrahim. Kuharap tangisan ini bukanlah suatu keberlebihan yang tak Kau sukai, ini hanyalah isak cintaku padaMu yang tiba-tiba saja keluar tanpa kuketahui.



Jum’at Mulia di Depan Perpustakaan

“Hei, hei, stop! Jangan kau jatuhkan air itu di pipiku sekarang ini! Aku baru memulai bacaan Rabithahku!!”, itulah yang kukatakan pada hati ketika ku mulai membaca do’a Rabithah kesayangan Rasulullah. Nafasku mulai tersengal, namun untunglah air mata belum keluar dari sepasang kelopakku. Siang itu adalah kegiatan rutin liqo’ disekolahku, seperti biasa, setelah tilawah, kultum, dan tausyiah, ada pembacaan do’a Robithoh agar iman semakin kokoh. Untuk kesekian kalinya aku menangis di tengah majelis bak Nobita dijahili Giant, ingin kuhentikan namun lagi-lagi semakin isak, kulafadzkan baris per baris do’a pagi dan petang itu, sedikit kuperlambat karena semua ini membuat makhraj yang keluar dari mulutku sedikit tak jelas. Sudah kuwanti-wanti dari awal, aku tak ingin semuanya tahu tentang tangisan ini, sengaja kutundukkan kepala dari awal hingga akhir bacaan. Ada sebercik malu, tapi bagaimana lagi, inilah diriku.


Akhwat Zone Ikhwah Gaul



Sebuah Lembaga Pemberdayaan Generasi Muslim bernama Ikhwah Gaul mengadakan mabit tahun baru 2012 dengan peserta seluruh akhwat se-Ngawi dan Karisidenan Madiun. Khusus untuk member akhwat (perempuan), Ikhwah Gaul memiliki sub divisi bernama AZIG singkatan dari Akhwat Zone Ikhwah gaul, di mana hanya muslimah yang berhak masuk dalam lingkup ini.  Sudah menjadi qadarullah, aku dan salah seorang saudaraku, Rohma, dipilih Allah menjadi panitia dalam kegiatan mabit yang rutin diselenggarakan setiap tahun baru ini.

Ba’da asar semua telah berkumpul di ruang utama melewati serangkaian acara awal, sambutan, tilawah, perkenalan dan sebagainya. Pembagian tugas mulai terlaksana, Rohma membuka acara dengan sambutan diselingi kalimat-kalimat Allah, selanjutnya bagianku qiro’atil qur’an dan perkenalan. Semakin jauh dentang waktu berjalan, semakin hangat ukhuwah ini kurasa.

Dan Allah pun turunkan rahmatNya lewat hujan, kami berlari-lari kecil menuju rumah Tuhan, melaksanakan maghrib wajib berjama’ah. Suasana bertambah khusyu’. Malam itu tak hanya siraman hujan yang membasahi raga, tausyiah dari Ummi Retno juga menjadi siraman bagi qalbu yang hampa.

 Tak terasa waktu kian berlalu, tibalah ibadah sunnah yang paling utama, qiyamul-lail. Kembali kami di bawah senyum rembulan, menapak jejak di atas tanah lembab menuju masjid, bersama bermunajat di atas perahu do’a. Lagi-lagi mataku memaksa cairan bening keluar, sebuah tangisan iman. Setengah jam lebih kukira qiyamul-lail terlaksana. Kembali muadzin mengumandangkan adzan shubuh.

Muhasabah tahun baru, riyadhah, dan packing telah terpijaki. Tibalah acara penutupan, kali ini aku yang memimpin acara, membuka pembicaraan, mengajak seluruh peserta mabit menghimpun syukur dan shalawat. Selanjutnya adalah salah satu acara yang dinanti, yakni doorprize. 6 akhwat berhasil mendapatkan kado mini sesuai tingkat pertanyaan yang dijawab. Ada yang mendapat mushaf, asesoris, bahkan buku. Spesial untuk penerima hadiah termahal, kuberi pertanyaan tambahan bagaimana kesan pesan dari awal perjalanan menghadiri mabit hingga acara penutup ini. Seorang akhwat dari Ngawi menceritakan pengorbanannya bersama teman-temanya saat berangkat dari Ngawi menuju tempat acara sampai kesan dan pesannya megikuti mabit Akhwat Zoe Ikhwah Gaul ini. Seperti anak SD yang bercerita kepada ibundanya, ia begitu semangat, jujur dan ekspresif mengutarakan apa yang keluar dari ingatannya. Sangat ringkas, melihat wajah-wajah para mujahidah muda berkumpul dalam sebuah lingkaran aqidah membuat batinku bercucuran air mata, namun beruntung raga dapat kutahan untuk tidak mengeluarkan cairan emosi itu. Dan di saat kuketahui saudara seperjuanganku bernama Titis begitu ikhlas dan ceria melewati sebongkah pengorbanan bersama teman-temannya, aku tak dapat lagi menahan tangis, mereka berjalan berkilo-kilo menahan terik matahari dan kelaparan, melawan rasa malu membujuk sopir angkutan kota untuk menurunkan tarif yang terlalu mahal bagi kantong mereka, kurasa ini hanya terjadi karena kekuatan dakwah dan ukhuwah. Dengan isak, kuberi khusus untuk manusia-manusia pilihan Allah yang kala itu duduk rapi di depanku., serangkai kalimat mungkin tak seindah syair namun ini kukatakan dari hati yang paling dalam. Suasana semakin hening, yang terdengar hanya suara dari bibirku disertai tangis haru biru. Disaat lisan melafadzkan do’a Rabithah, disaat telinga ini mendengar jawaban “aamiin” dari puluhan hati yang khusyu’, maka disaat itulah air mataku mengucur semakin deras.

Usai berpamitan dan berpeluk erat, satu per satu meninggalkan ruang penuh kenangan. Ya Allah jadikanlah perpisahan ini sebagai perpisahan yang Kau ridhoi, dan pertemukan kembali kami dalam pertemuan yang lebih indah.


Syuro’ bersama Keluarga Madani

Keluarga Madani bukanlah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak, melainkan kesatuan nama pengurus pusat sebuah forum dakwah yang biasa dikenal Buletin Madani.

Setelah beberapa bulan berdiri, baru minggu kemarin Buletin Madani mengadakan syuro’ (rapat) khusus Keluarga Madani. Dan salah satu di dalamnya adalah aku.

Jika selama ini seluruh urusan Buletin Madani dirapatkan lewat dunia maya, maka dalam syuro’ Keluarga Madani yang diadakan di Solo ini, kami berkesempatan sharing, diskusi lebih jelas dan gamblang.

Pukul 07.00 pagi, aku dan kedua saudaraku berangkat dari rumah menuju terminal. Tiba di sana, kami bertemu dengan Mbak Wikan, salah satu anggota Keluarga Madani pula. Alhamdulillah kami mendapat bis yang lumayan sepi, saudaraku Lana duduk bersampingan dengan Mbak Wikan,aku sendiri memilih satu kursi kosong tepat di belakang Lana, dan si Rohma kebagian kursi pas di belakangku pula.

Dalam perjalanan aku lebih banyak diam, mungkin hanya satu dua kali menjawab pertanyaan seorang gadis berjilbab yang kebetulan duduk di sampingku, karena saat itu perutku agak tak enak, barangkali kebanyakan makan dagangan sendiri, karuhun. Yang kutahu Lana dan Mbak Wikan ngobrol ngalor ngidul begitu semangat, sesekali mereka saling menepuk pundak atau tertawa kecil, entah apa yang mereka bicarakan, sepertinya sebuah misi besar.

Roda bis yang kutumpangi perlahan berhenti di depan kampus UNS menurunkan aku dan kawan-kawan. belum ada lima langkah, kaki kami terhenti, seorang akhwat melambaikan tangan berlari kecil menghampiri kami. Dia adalah Mbak Layli, salah seorang member sekaligus aktivis di Ikhwah Gaul. Rupanya dia mengenali kami lewat jaket Ikhwah Gaul yang kukenakan bersama Lana dan Rohma. Tidak lama kami berbincang-bincang, Mbak Layli harus kembali ke ma’had tahfidz dan kami harus meneruskan perjalanan menuju masjid Nuruh Huda, tempat syuro’ Keluarga Madani.

Seorang gadis berjilbab putih terlihat bosan menunggu di pinggiran pos satpam, dia Ukh Lestari, keluarga Madani asli Solo. Ini pertama kalinya dia bertemu denganku dan saudara-saudaraku. Mbak Wikan pun mulai membuka pembicaraan “Dek Lestari, ini Hana, Lana, Rahma, dari Magetan”.


Panas sang raja siang semakin membara, kami segera meneruskan perjalanan. Rohma, Lana, dan Mbak Wikan berjalan di baris pertama, aku dan Lestari mengikuti dari belakang. Sesampainya di masjid Nurul Huda, cepat-cepat kami naik ke lantai 2, tak sabar menjawab penantian Keluarga Madani lainnya yang cukup lama menunggu. Dua akhwat dari Jogja, Mbak Serenande Ungu dan Mbak Putri, menyambut kami berlima. Ini juga pertama kalinya kami berjumpa. Pas sekali, usai perkenalan antar akhwat, gerombolan ikhwan Keluarga Madani tiba di TKP. Langsung tanpa basa-basi pemimpin redaksi membuka syuro’, diawali sambutan, tilawah, dengan sedikit tausyiah, lalu perkenalan dari masing-masing anggota Keluarga Madani. Ruangan syuro’ yang kami gunakan memang dari awal diberi pembatas atau hijab, sehingga ketika sesi ta’aruf, kami pihak akhwat hanya bisa menebak suara dari ikhwan ini suara siapa, sebaliknya pihak ikhwan juga demikian.

Karena dari pertama pembicaraan hanya suara dari ikhwan yang mendominasi, lantas Pak Pimred (pimpinan redaksi) memberi akhwat peluang berbicara, “sekarang yang akhwat silahkan salah satu mewakili memberi kesan atau tausyiah, terserah yang penting kata-kata kebaikan”, terdengar dari balik hijab suara sengau keluar dari mulutnya. Aku, Lana, Rohma, Mbak Wikan, Lestari, Mbak Serenande Ungu, dan Mbak Putri saling lembar tugas, “kamu aja”, “eh jangan akuu”, dan sebagainya. Jika dibiarkan seperti ini, maka sampai maghrib pun syuro’ tidak akan jalan, “wes, aku aja”, kataku. Seketika berhentilah perang mulut antar akhwat.

Mbak wikan kemudian memberi klu kepada ikhwan, “ini ada adek yang mau ngasih tausyiah”. Adek? Ya, kebetulan kami bertiga dan Lestari adalah yang paling muda, lainnya sudah kuliah bahkan ada yang sudah lulus. Sebisa mungkin kubasskan suaraku, berharap dari balik papan pembatas itu apa yang kusampaikan terdengar lebih jelas. “assalamu’alaykum Wr. Wb”. Suasana menjadi hening, terdengar jawaban Wa’alaykumsalam berpadu antar ikhwan dan akhwat. “Di sini saya hanya akan membacakan sebuah motivasi kutipan dari alm. Ust. Ramhat Abdullah yang berjudul “Memang Seperti itu Dakwah’”, aku mulai membuka pembicaraan. Tanpa kukomando, sekejap suasana hatiku berubah, yang awalnya biasa-biasa saja, kini lebih sendu, masih terngiang dalam ingatan isi dari kutipan alm. Ust. Rahmat Abdullah ini. Pertama kali kudengar saat Boss Ikhwah Gaul membacakannya untukku dan kedua saudaraku di sebuah gazebo rumah makan ketika kami ditraktir makan ayam bakar. Untuk memperjelas, kubaca kembali judul taujih itu, “ Me mang Se per ti itu dakwah” lagi-lagi aku tak dapat membendung air mata, dengan tertatih sebuah  juduh taujih dari Ust.rahmat Abdullah kubaca.

Kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraph ku eja sejelas dan sekhusyu’ mungkin, sembari kubayangkan segala yang dituliskan Ust. Rahmat Abdullah dalam karangannya “Memang Seperti itu Dakwah”.

Hujan air mata semakin deras mengalir di pipiku, kalimat “Karena itu kamu tahu. Pejuang yg heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore. Yg takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar. Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar. Dan mereka justru jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati, “ya Allah, berilah dia petunjuk… sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang “ membuat hatiku diguyur perasaan takut, harap, dan cemas. Takut bila qalbu ini berhasil dikuasai setan hingga sgala perjuangan sia-sia karena penyakit hati, mengharap setiap nafas juang yang terhempas menjadi pahala dari Sang Penggenggam Ridho, dan cemas bila ikhtiyar ini tak diterima olehNya.

***

Kepada saudaraku seperjuangan, kepada saudaraku peni’mat dakwah, kepada saudaraku yang lebih memilih pahitnya dunia dibanding manisnya kehidupan, teruntuk seluruh mujahid-mujahidah segala zaman, sebercik tetasan cinta, cinta yang semoga turun dari RahmatNYA, cinta yang menjadi penyubur iman penumbang futur, semoga tetesan ini menjadi saksi kerja dakwah aku dan engkau.  

Sabtu, 29 Oktober 2011

Soreku dan Al-Qur’an



Kuceritakan kejadian ini kepada si kecil Nisa yang kebetulan saat itu sedang bermain dokter-dokteran di kamarku, entah sadar atau tidak apa yang ia katakan “ya gitu mbak, cara Allah melindungi al-Qur’an”, untuk kedua kalinya dia nyelonong pergi tanpa pamit.


Siang yang terik itu membuatku mengeluh "hari ini pasti akan panas lagi seperti biasa". Pada hari itu pula akan diadakan regenerasi 'rohis' sepulang sekolah. Sebagai koordinator akhwat yang akan lengser, sepatutnya aku memang harus hadir dan membantu tetek bengek acara tersebut. Padahal minggu lalu sudah kurencanakan untuk qoilulah pulang sekolah, Maklum kelas 3 memang di intensifkan waktu belajar mengajarnya sehingga hampir setiap hari aku harus pulang sore, kecuali Sabtu ini.

Scedhule pertama adalah mengambil snack yang kemarin sudah dipesan salah seorang panitia acara yakni Ukhti Jayani. Karena Allah menakdirkan kami untuk memesan snack ke pembuat kue yang baik hati, kami hanya disuruh menunggu di depan pos satpam sebab pembuat kuelah yang langsung mengantar snack tersebut ke sekolah. Namun apa daya manusia yang dho'if ini, berjalan dari masjid ke pos satpam saja terasa merangkak 100 kilo di atas Sahara. 5 menit sampai di depan pos satpam aku dan Jayani langsung mencari tempat duduk di bawah pohon mangga berharap ada udara lebih yang mau meniup keringat kami yang bercucuran. Sambil menuggu pesanan datang, Jayani mengeluarkan tas berisi kotak ajaib, dia menawarkanku untuk membantunya menghabiskan bekal makanan yang ia bawa dari rumah. Yummiiii, tanpa pikir panjang aku ambil kotak ajaib itu beserta sebuah sendok. Setelah dibuka isinya adalah nasi kecap yang ditaburi tahu berbalut telur. Walaupun sedikit berantakan namun rasanya bak ikan gurami goreng ala rumah makan Suminar. Inilah alasan orang yang sedang lapar, semua makanan dianggap enak. *Tapi bener enak kok Jay^^

Setelah beberapa menit sesi suap menyuap dengan Jayani, laki-laki bejenggot tipis beserta seorang temannya datang membawa 3 kantong plastik besar berisi kotak-kotak putih. Oh ternyata itu makanan yang kami pesan. Menurut hasil syuro' kemarin, 10 menit lagi acara akan dimulai, aku dan seorang perempuan berpostur tinggi itu segera kembali ke masjid mengantar snack. Dan kali ini perjalan dari pos satpam ke masjid serasa mendaki gunung Uhud, berat dan jauh. Dalam perjalan, beberapa kali kami tertimpa musibah, kotak-kotak putih dalam kantong seperti ingin melarikan diri dari penjara, satu per satu berjatuhan. Untunglah harta karun dalam kotak putih itu tidak ikut jatuh. Enam langkah yang kami tempuh, tiba-tiba perjalanan mendaki itu terhenti, sambil cengar-cengir Jayani meminta izin padaku untuk mengambil tepat makannya yang tetinggal di bawah pohon mangga tadi. Kembalinya ia dari pos satpam, kami meneruskan perjalanan sambil bercerita mengenang kejadian selama siang tadi. Mengasyikkan.

Para peserta dan pembina pun berkumpul, tanda acara regenerasi 'rohis' akan dimulai. Sebagai panitia, aku ditemani dua perempuan berjilbab menunggu di ruang panitia, menghitung-hitung snack yang jumlahnya tidak sepadan dengan para peserta. Namanya juga perempuan, kami terlalu memikirkan masalah yang sepele termasuk kurangnya snack yang akan dibagikan nanti. Dengan berat hati kami meminta tolong kepada peserta kelas 3 agar saling membagi makanan yang sebenarnya hak mereka adalah mendapat satu kotak untuk satu orang.

Suasana menginjak sepi, aku, Siwi, dan Jayani masih berada di sebuah ruang kelas yang merangkap sebagai ruang panitia. Tak sengaja kutertarik dengan sebuah cincin yang melingkar di jemari salah seorang temanku, Jayani. “Jay, boleh pinjam cincinmu itu?” tanyaku, “boleh kok, nih” jawab Jayani sambil menyodorkan cincinnya padaku. Lalu kupasang benda perak itu di jari kelingkingku sebelah kanan, “cocok nggak?” pertanyaanku yang satu ini tak ada yang menjawab. “Eh Han, aku penasaran sama suamimu besok, kayak gimana ya?” Siwi tiba-tiba nyeletuk dengan wajah heran. Aku tak habis pikir ia akan bertanya demikian. Dari tema percakapan yang tak disengaja tadi, mulailah sebuah percakapan serius. Aku sudah lupa apa yang mereka berdua tanyakan, yang jelas terasa lama sekali aku berbicara menjelaskan perkara pacaran-khitbah-nikah dalam Islam. Dua perempuan cantik itu terlihat antusias sekali mendengarkan suaraku.

Kujelaskan sekali lagi kesimpulan dari ayat Al-Qur’an, hadits, kisah inspiratif dan berbagai tsaqofah yang aku paparkan, tepat ketika suara para dewan syuro’ regenerasi yang mulai berdebat kecil memberikan pendapat. Kami memutuskan untuk keluar ikut dalam barisan peserta di ruang sebelah. Usai percakapan singkat tadi kulihat mata Jayani dan Siwi berbinar-binar, sepertinya mereka sedang memikirkan sebuah acara khitbah dan walimatul’ursyi masa depan. Haha.

Sedikit canggung saat kami memasuki ruangan penuh makhluk itu. Bisa dipastikan kami pendatang paling akhir. Tak sengaja melirik, kulihat baris satu dua adalah tempat duduk pembina selaku dewan syuro’ dan para peserta ikhwan, dan tiga baris terakhir adalah tempat untuk akhwat. Sip, penataan sesuai rencana syuro’ kemarin, batinku.

Sampai di tempat duduk akhwat, aku, Siwi, dan Jayani berpencar karena memang sudah tidak ada lagi tiga kursi berjejer di sana. Aku mendapat kursi nomor dua dari belakang paling pojok. Terlihat beberapa makanan tercecer di atas kursi masing-masing. “insyaAllah tidak ada yang kekurangan makanan sore ini”, aku senyum-senyum sendiri merasa lega. Dan terbukti, banyak peserta akhwat yang merasa kenyang hingga kue dalam kotak putih yang aku bagikan tadi tidak dihabiskan. “Ya Allah aku lapar, bolehkah aku meminta satu saja lumpia yang bukan hak ku itu?, Allah menjawab pertanyaanku, tiba-tiba saudara perempuanku menyodorkan sebutir kue klepon sisa makanannya. “Han, mau nggak?”, dia mungkin tidak tahu saudara peremupuan dan dua temannya dari tadi belum mendapat bagian kotak putih itu. “Sini!” jawabku. Lalu dengan hati-hati kumasukkan sebutir kue bertabur parutan kelapa itu ke dalam mulut, saat gigitan pertama, mak klethus, gula merah cair muncrat dari dalam kue klepon itu, inilah sensasi makan klepon, ‘mak klethus’. Tak sengaja aku teringat dua temanku yang dari tadi juga belum mendapat bagian kotak putih, si lucu Siwi dan si tinggi Jayani. “Apakah mereka sudah mendapat kue sepertiku?”

Kira-kira setengah jam kemudian, acara regenrasi itu usai,telah terpilih pemimpin atau koordinator yang semoga adil dan baik dalam amanahnya untuk satu tahun ke depan. Setelah berjabat tangan dan cipika cipiki dengan teman sesama akhwat, aku dan beberapa teman lainnya menuju masjid untuk sholat ashar. Bersamaku ada beberapa akhwat yang tak kusebut namanya dari awal, selain itu ada Siwi, Jayani, dan salah seorang saudara perempuanku yang tadi menyodorkan sebutir klepon yaitu Rohma.

Merasa rumahnya ndeso alias jauh, Siwi dan beberapa teman akhwat lainnya berpamitan untuk pulang, mungkin takut kesorean. Tinggallah di masjid itu hanya aku, Jayani, dan Rohma. Tidak ada interaksi, kami bertiga sibuk dengan urusan masing-masing. Jayani yang kuingat ia sedang sibuk sms-an dengan adiknya, bisa ditebak dia minta dijemput. Rohma, sepengetahuanku dia komat-kamit nggak jelas, sepertinya sedang membaca al-ma’tsurot. Aku sendiri di tangga masjid yang berbeda, membaca sebuah buku Best Women in Heaven karangan salah seorang anggota dewan pengajar Universitas al-Azhar. Bab II dengan judul al-Hur al‘ain, menarik perhatianku. Di situ dijelaskan arti, perbedaan pendapat tentang asal arti al-hur ‘ain versi beberapa ‘ulama’, penciptaan bidadari menurut al-Qur’an dan hadits, kelompok bidadari, dan lain sebagainya. Kok jadi cerita tentang buku yak?

Kriik krik, suasana makin senyap, “pulang yuk”, ajakku. Dua akhwat di plataran masjid itu mengiyakan ajakanku. Satu meter perjalan kami, tiba-tiba Allah turunkan rohmatNya, di sore tanpa mendung turun hujan rintik-rintik yang lama-kelamaan menjadi deras. Allahumma shoyyiban nafi’an. “Aduh tambah deras nih, kita balik ke masjid aja!”. Tanpa pikir panjang aku dan Jayani menyetujui pikiran Rohma. Cepat-cepat kami melepas sepatu dan menaiki tangga masjid. “Han, adikku nggak bisa jemput, gimana ini?” tanya Jayani. “Nanti aku yang nganterin, Rohma biar nunggu dulu di pos satpam”, jawabku. Sekitar tiga menit kemudian, hujan reda begitu saja, Karena hari hampir petang, kami putuskan untuk cepat-cepat kembali ke rumah. Langkah kami pun terhenti di depan pintu gerbang kecil dekat tempat parkiran, langit kembali menangis, kali ini lebih deras. “Subhanallah, kita balik aja yuk ke masjid, kayaknya redanya bakal lama deh”, keluhku. “Ya Allah Han, seneng banget sih lu bolak-balik!”, “tau ni!”, Rohma dan Jayani tak setuju dengan tawaranku. Finally tinggalah tiga akhwat kumut-kumut berdiri dalam lorong gelap menanti cerahnya langit.

“Eh kayaknya masih lama deh terangnya, mending ke masjid yuk hehe”, si Jayani mulai letih berdiri hingga menyetujui tawaranku tadi. “Nah gitu dong dari tadi.. ayuuk!”, jawabku. Bagai banci dikejar Satpol PP, kami bertiga belari menuju masjid sambil tertawa kecil di bawah derasnya hujan. Sungguh menyenangkan.

Belum sempat tangga masjid kami injak, hujan berubah rintik, sangat rintik. Aku, Rohma, dan Jayani saling menatap, disaat yang bersamaan kami tertawa bak orang kisinan. “Haha ngotot banget sih pengen ke masjid, udah berapa kali kita bolak-balik ke mari? Liat, udah hampir terang nih”, kali ini Rohma unjuk suara. Sungguh tiada seorangpun yang tahu kapan Allah akan berkehendak, kapan Allah turunkan hujan, kapan Allah hentikan hujan.

Untuk ketiga kalinya kami pergi meninggalkan rumah berkubah itu dengan rasa harap-harap cemas.

Tiba di gerbang kecil tempat berteduh kami tadi, kami berpisah, aku dan Jayani belok ke kanan menuju parkiran mengambil motor, dan Rohma belok ke kiri menuju pos satpam menanti aku kembali dari mengantar Jayani.

Sekarang tinggal aku dan Jayani di atas motor matic bewarna biru tua, berjalan 35km/jam melewati pohon-pohon besar yang tumbuh di samping ruang-ruang kelas. Bress! Hujan kembali turun deras. Spontan kubelokkan sepeda motor yang aku setir ke arah lorong besar dekat gerbang keluar sekolah. Lorong yang aku tempati kali ini adalah lorong utama yang menghubungkan antara taman luar dan ruang kelas 1, kebanyakan pengguna lorong ini adalah siswa kelas 1, jadi tak jarang para penghuni sekolah menyebut tempat ini, lorong milik kelas 1. Aahh sekarang bukan saatnya bercerita tentang ruang gelap itu, ini saatnya memikirkan bagaimana nasibku, Jayani dan Rohma.

Kupaksa Jayani turun dari motor dahulu agar segera berteduh, sementara aku menaruh motor tak jauh dari lorong utama. Setelah motor terjagang, aku berlari menuju tempat Jayani berteduh, dari kejauhan kulihat wajahnya mulai cemas. Tepat di taman depan lorong, Allah hentikan hujan deras yang jatuh beberapa menit itu. “Subhanallah walhamdulillah” kataku dalam hati. “Hana, mendingan kita nekat langsung pulang aja, aku takut nanti ujan turun lagi!”, dari ruang gelap tempat ia menunggu, Jayani berteriak dan lari mendekatiku. Aku, Jayani, dan vario biru pun pergi meninggalkan gedung tua itu secepat mungkin.

Di seperempat perjalan, kecepatan si vario yang semula 80 km/jam mendadak berubah 30 km/jam. Hujan lebat disertai banjir setinggi setengah lutut orang dewasa di depan mata membuatku mengurangi kecepatan. Sering kutemui antara satu daerah dengan daerah lain memiliki debit hujan yang berbeda, dan inilah yang terjadi saat ini. “Jay, kita terus aja ya? udah kehujanan gak papa, kasian Rohma nanti nunggu lama!” dibalik helm VOG aku berteriak mengutarakan kenekatanku. “Kamu gak papa Han? Aku sih setuju aja”, teman ku yang satu ini menunjukkan ketabahannya.

Sampai juga di pintu gerbang perumahan di mana Jayani tinggal. Kompleks rumah yang terletak di dataran tinggi ini memang tak terkena banjir, namun banyak lubang yang menghiasi sepanjang jalan. Ah kecil…

Perempatan pertama belok kanan, lurus, lalu belok kanan lagi, ada tempat pembuangan sampah belok kiri, kemudian belok kiri lagi, sampailah di depan rumah ber cat putih tanpa pagar. Rumah Jayani. Cepat-cepat perempuan berwajah mirip Pipit Senja itu turun dari boncenganku. “Syukron ya Han. Kamu di sini aja dulu nunggu terang, mungkin sekolah sekarang lagi hujan deras juga”, katanya. “’afwan, nggak deh Rohma udah nunggu lama nih,aku langsung balik aja. Assalamu’alaykuum!!”, aku berbalik arah meninggalkan Jayani.

Astaghfirullah, aku baru sadar! Di dalam ransel hitamku ada mushaf dan beberapa buku bacaan yang aku beli dari sangu lebaran kemarin kehujanan. Untuk buku pelajaran aku tak terlalu eman, karena seluruh buku paketku bukanlah buku asli dari penerbit melainkan berupa fotocopy-an. Yah semoga saja mereka mampu menjaga diri dalam ransel.

Perjalanan dari rumah Jayani menuju sekolah ini agaknya lebih cepat walaupun hujan deras semakin merata. Tanpa kupanggil Rohma tiba-tiba keluar dan cepat menaiki motor. “Allaah, kamu abis mandi Han?”, disituasi genting ini Rohma masih saja bisa bercanda, “ah elu, jelas-jelas ane kehujanan”, jawabku.

15 menit perjalanan, sampai juga di rumah. Namun belum sampai motor terparkir, dari jendela ummi memanggilku, “Han, kamu udah basah kan, sekalian jemput dek Nisa di TPA, kasian dia”. Oke, tancap gas menuju RT 3.

“Mbaak!”, bocah berpakaian serba putih dengan payung merah berlari menghampiriku. “Cepet naik dek! Mbak kehujanan nih” kulambai-lambaikan tangan ke arah Nisa. “Mbak tadi aku diajari tashrif ama hadits lho. Oya ini dapet hadiah buku dari ustadz Fauzan, aku juara 2 tahfidzul Qur’an”, dengan semangat Nisa kecil bercerita kegirangan tanpa berfikir kakaknya sudah kedinginan sejak tadi. “Alhamdulillah, sekarang buruan naik motor ceritanya diterusin ntar aja di rumah mbak kedinginan nih”. “O iya hehe.. pulang yuk! Mbak Hana sih nggak brangkat-brangkat dari tadi”. Satu kata untuk kejadian ini -glodakk-

Sampailah digubuk hijau rumahku. “Hoooop! Aku turun sini aja, garasinya kan nggak cukup mbak” suara kecil Nisa kembali memekakkan telinga. Ku hentikan motor di depan garasi, membantu adekku yang satu ini turun dari motor. Eits urusan belum selesai, ruang kosong yang seharusnya untuk parkir motor malah digunakan Nisa untuk menaruh payungnya. “Nisaa payungnya singkirin, mau dipakek naruh motor mbak nih!”, teriakku. “Assalamu’alaykuum, Ummiiiiii aku pulaang”, ternyata yang diajak ngomong sudah nyelonong pergi. Mau tak mau aku turun lagi dari motor memindah payung tadi ke tempat lain.

Masuk ke rumah kulihat umi sedang tilawah di ruang tengah dan Nisa yang sibuk dengan kado dari ustadz TPAnya. Aku bergegas mandi karena bajuku sudah basah kuyub layaknya pakaian yang habis diublek mesin cuci.

Setelah mandi, kuperiksa isi tas. Dan subhanallah, hampir seluruh bukuku basah kecuali mushaf dan dua buku islami dengan judul Best Women in Heaven yang tadi kubaca di masjid dan Qishatti fi Hifdz Al-Qur’an tulisan Muna Ulaiwah yang telah rampung kubaca di sekolah saat pelajaran bahasa Indonesia pagi tadi. Padalah buku-buku itu kuletakkan jadi satu, namun sekali lagi inilah kehendak Allah. Kuceritakan kejadian ini kepada si kecil Nisa yang kebetulan saat itu sedang bermain dokter-dokteran di kamarku, entah sadar atau tidak apa yang ia katakan “ya gitu mbak, cara Allah melindungi al-Qur’an”, untuk kedua kalinya dia nyelonong pergi tanpa pamit.

*Kisah nyata dengan sedikit perubahan

Senin, 18 Juli 2011

PERTAMA! Hafalkan Al-Qur'an

Abu Umar bin Abdil Barr berkata:
“Menuntut ilmu itu ada tahapan-tahapannya. Ada marhalah-marhalah dan tingkatan-tingkatannya. Tidak sepantasnya bagi penuntut ilmu untuk melanggar/melampaui urutan-urutan tersebut. Barangsiapa secara sekaligus melanggarnya, berarti telah melanggar jalan yang telah ditempuh oleh as-salafus shalih rahimahumullah. Dan barangsiapa melanggar jalan yang mereka tempuh secara sengaja, maka dia telah salah jalan, dan siapa saja yang melanggarnya karena sebab ijtihad maka dia telah tergelincir.

Ilmu yang pertama kali dipelajari adalah menghafal Kitabullah k serta berusaha memahaminya. Segala hal yang dapat membantu dalam memahaminya juga merupakan suatu kewajiban untuk dipelajari bersamaan dengannya. Saya tidak mengatakan bahwa wajib untuk menghafal keseluruhannya. Namun saya katakan bahwasanya hal itu adalah kewajiban yang mesti bagi orang yang ingin untuk menjadi seorang yang alim, dan bukan termasuk dari bab kewajiban yang diharuskan.”

Al-Khathib Al-Baghdadi berkata:
“Semestinya seorang penuntut ilmu memulai dengan menghafal Kitabullah k, di mana itu merupakan ilmu yang paling mulia dan yang paling utama untuk didahulukan dan dikedepankan.”

Al-Hafizh An-Nawawi berkata:
“Yang pertama kali dimulai adalah menghafal Al-Qur’an yang mulia, di mana itu adalah ilmu yang terpenting di antara ilmu-ilmu yang ada. Adalah para salaf dahulu tidak mengajarkan ilmu-ilmu hadits dan fiqih kecuali kepada orang yang telah menghafal Al-Qur’an. Apabila telah menghafalnya, hendaklah waspada dari menyibukkan diri dengan ilmu hadits dan fiqih serta selain keduanya dengan kesibukan yang dapat menyebabkan lupa terhadap sesuatu dari Al-Qur’an tersebut, atau waspadalah dari hal-hal yang dapat menyeret pada kelalaian terhadapnya (Al-Qur’an).”

(An-Nubadz fi Adabi Thalabil ‘Ilmi hal. 60-61)

sumber: http://www.asysyariah.com/syariah/permata-salaf/462-hafalkan-al-quran-terlebih-dahulu-permata-salaf-edisi-50.html

Sabtu, 23 April 2011

CARA MUDAH MENGHAFAL AL QUR’AN



CARA MUDAH MENGHAFAL AL QUR’AN yang ditulis oleh Syeikh Abdul Muhsin Al-Qasim. Beliau adalah Imam dan Khatib di Masjid Nabawi. Semoga Artikel kali ini bermanfaat dan dapat menambah semangat kaum Muslimin untuk dapat menyelesaikan hafalan Al Qur’an yang mulia. Selamat mencoba.

الحمد لله والصلاة والسلام على نبينا محمد ، وعلى آله وصحبه أجمعين

Berikut adalah metode untuk menghafal Al-Quran yang memiliki keistimewaan berupa kuatnya hafalan dan cepatnya proses penghafalan. Kami akan jelaskan metode ini dengan membawa contoh satu halaman dari surat Al-Jumu’ah:

1. Bacalah ayat pertama sebanyak 20 kali :

سَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

2. Bacalah ayat kedua sebanyak 20 kali:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

3. Bacalah ayat ketiga sebanyak 20 kali:

وَآَخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

4. Bacalah ayat keempat sebanyak 20 kali:

ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

5. Bacalah keempat ayat ini dari awal sampai akhir sebanyak 20 kali untuk mengikat/menghubungkan keempat ayat tersebut

6. Bacalah ayat kelima sebanyak 20 kali:

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

7. Bacalah ayat keenam sebanyak 20 kali:

قُلْ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ هَادُوا إِنْ زَعَمْتُمْ أَنَّكُمْ أَوْلِيَاءُ لِلَّهِ مِنْ دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

8. Bacalah ayat ketujuh sebanyak 20 kali:

وَلَا يَتَمَنَّوْنَهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ

9. Bacalah ayat kedelapan sebanyak 20 kali:

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

10. Bacalah ayat kelima sampai ayat kedelepan sebanyak 20 kali untuk mengikat/menghubungkan keempat ayat tersebut

11. Bacalah ayat pertama sampai ayat kedelepan sebanyak 20 kali untuk menguatkan/meng-itqankan hafalan untuk halaman ini

Demikianlah ikuti cara ini dalam menghafal setiap halaman Al-Qur’an. Dan janganlah menghafal lebih dari seperdelapan juz dalam setiap hari agar tidak berat bagi anda untuk menjaganya.

Bagaimana cara menggabungkan antara menambah hafalan dan muraja’ah?

Janganlah anda menghafal Al-Quran tanpa proses muraja’ah/pengulangan. Hal ini dikarenakan jika anda terus menerus menambah hafalan Al-Quran lembar demi lembar hingga selesai kemudian anda ingin untuk mengulang kembali hafalan anda dari awal maka hal itu akan berat dan anda dapati diri anda telah melupakan hafalan yang lalu. Oleh karena itu, jalan terbaik (untuk menghafal) adalah dengan menggabungkan antara menambah hafalan dan muraja’ah.

Bagilah Al-Quran menjadi 3 bagian dimana setiap bagian terdiri dari 10 juz. Jika anda menghafal satu halaman setiap hari, maka ulangilah 4 halaman sebelumnya sampai anda menghafal 10 juz. Jika anda telah mencapai 10 juz, maka berhentilah selama sebulan penuh untuk muraja’ah dengan cara mengulang-ngulang 8 halaman dalam setiap harinya.

Setelah sebulan penuh muraja’ah, maka mulailah kembali untuk menambah hafalan yang baru baik satu atau dua halaman setiap harinya tergantung kemampuan serta barengilah dengan muraja’ah sebanyak 8 halaman dalam sehari. Lakukan ini sampai anda menghafal 20 juz. Jika anda telah mencapainya, maka berhentilah dari menambah hafalan baru selama 2 bulan untuk mengulang 20 juz. Pengulangan ini dilakukan dengan mengulang 8 halaman setiap hari.

Setelah 2 bulan, mulailah kembali menambah hafalan setiap hari sebanyak satu sampai dua halaman dengan dibarengi muraja’ah/pengulangan 8 halaman sampai anda menyelesaikan seluruh Al-Qur’an.

Jika anda telah selesai menghafal seluruh Al-Qur’an, ulangilah 10 juz pertama saja selama satu bulan dimana setiap hari setengah juz. Kemudian ulangilah 10 juz kedua selama satu bulan dimana setiap hari setengah juz bersamaan dengan itu ulangilah pula 8 halaman dari 10 juz pertama. Kemudian ulangilah 10 juz terakhir selama satu bulan dimana setiap hari setengah juz bersamaan dengan itu ulangilah pula 8 halaman dari 10 juz pertama dan 8 halaman dari 10 juz kedua.

Bagaimana cara memuraja’ah/mengulang Al-Quran seluruhnya jika saya telah menyelesaikan system muraja’ah diatas?

Mulailah dengan memuraja’ah Al-Qur’an setiap hari sebanyak 2 juz. Ulangilah sebanyak 3 kali setiap hari hingga anda menyelesaikan Al-Qur’an setiap 2 minggu sekali. Dengan melakukan metode seperti ini selama satu tahun penuh, maka –insya Allah- anda akan dapat memiliki hafalan yang mutqin/kokoh.

Apa yang harus dilakukan setelah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dalam satu tahun?

- Setelah setahun mengokohkan hafalan Al-Qur’an dan muraja’ahnya, jadikanlah Al-Qur’an sebagai wirid harian anda sampai akhir hayat sebagaimana Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjadikannya sebagai wirid harian. Adalah wirid Rasulullah dengan membagi Al-Qur’an menjadi 7 bagian sehingga setiap 7 hari Al-Qur’an dapat dikhatamkan. Berkata Aus bin Hudzaifah رحمه الله: Aku bertanya pada sahabat-sahabat Rasulullah – صلى الله عليه وسلم – tentang bagaimana mereka membagi Al-Qur’an (untuk wirid harian). Mereka berkata: 3 surat, 5 surat, 7 surat, 9 surat, 11 surat, dan dari surat Qaf sampai selesai. (HR. Ahmad). 

Yaitu maksudnya mereka membagi wirid Al-Quran sebagai berikut:

- Hari pertama: membaca surat “al fatihah” hingga akhir surat “an-nisa”,
- Hari kedua: dari surat “al maidah” hingga akhir surat “at-taubah”,
- Hari ketiga: dari surat “yunus” hingga akhir surat “an-nahl”,
- Hari keempat: dari surat “al isra” hingga akhir surat “al furqan”,
- Hari kelima: dari surat “asy syu’ara” hingga akhir surat “yaasin”,
- Hari keenam: dari surat “ash-shafat” hingga akhir surat “al hujurat”,
- Hari ketujuh: dari surat “qaaf” hingga akhir surat “an-naas”.
Wirid Rasulullah – صلى الله عليه وسلم – di singkat oleh para ulama dengan perkataan: فمي بشوق (famii bisyauqi). Dimana setiap huruf dari kata ini merupakan surat awal dari kelompok surat yang dibaca setiap hari.

Bagaimana membedakan antara ayat-ayat mutasyaabih/mirip di dalam Al-Qur’an?

Cara yang paling afdhal jika anda mendapati 2 ayat yang mirip adalah dengan membuka mushaf pada setiap ayat yang mirip tersebut, lalu perhatikanlah perbedaan diantara kedua ayat tersebut kemudian berikanlah tanda yang dapat mengingatkan anda akan perbedaan itu. Lalu ketika anda memuraja’ah, perhatikanlah perbedaan yang anda tandai sebelumnya beberapa kali hingga anda mantap menghafal tentang kemiripan dan perbedaan diantara keduanya.

Kaidah-kaidah dan batasan-batasan dalam menghafal Al-Qur’an

o Wajib bagi anda menghafal dengan bantuan seorang ustadz/syeikh untuk membenarkan bacaan anda

o Hafallah 2 halaman setiap hari. Satu halaman setelah Subuh, dan satu halaman lagi sesudah Ashar atau sesudah Maghrib. Dengan cara ini, maka anda akan mampu menghafal Al-Qur’an seluruhnya dengan mutqin/kokoh dalam waktu satu tahun. Adapun jika anda menambah hafalan diatas 2 halaman setiap hari maka hafalan anda akan lemah disebabkan semakin banyaknya ayat yang harus dijaga..

o Hendaklah menghafal dari surat An-Naas sampai Al-Baqarah karena hal tersebut lebih mudah. Namun setelah selesai menghafal seluruh Al-Quran, hendaklah muraja’ah anda dimulai dari surat Al-Baqarah sampai An-Naas

o Hendaklah menghafal dengan menggunakan satu cetakan mushaf karena hal ini dapat menolong anda dalam memantapkan hafalan dan meningkatkan kecepatan dalam mengingat posisi-posisi ayat serta awal dan akhir setiap halaman Al-Qur’an.

o Setiap orang yang menghafal dalam 2 tahun pertama biasanya masih mudah kehilangan hafalannya. Masa ini dinamakan dengan Marhalah Tajmi’ (fase pengumpulan). Janganlah bersedih atas mudahnya hafalan anda hilang atau banyaknya kekeliruan anda. Karena memang fase ini merupakan fase cobaan yang sulit. Dan waspadalah, karena syaithan akan mengambil kesempatan ini untuk menggoda anda agar berhenti dari menghafal Al-Qur’an. Maka janganlah perdulikan rasa was-was syaithan tersebut dan teruskan menghafal karena sesungguhnya itu adalah harta yang sangat berharga yang tidak diberikan pada setiap orang.



Sumber : http://salafiyunpad.wordpress.com/2009/08/05/cara-mudah-menghafal-al-quran/