“Menulis adalah nikmat termahal yang diberikan oleh Allah, ia juga sebagai perantara untuk memahami sesuatu. Tanpanya, agama tidak akan berdiri, kehidupan menjadi tidak terarah...” Qatâdah, Tafsîr al-Qurthûbî

Kamis, 06 Maret 2014

Cak Nun


This biography is written by :
                                            Name                      : Fatkhul Sani Rohana
                                            Student Number      : 13391114
                                            Majority                 : Islamic Economic
                                            Faculty                   : Islamic Finance




Muhammad Ainun Najib or commonly known Emha Ainun Najib or Cak Nun is the most famous musician for religion song (people called shalawat), artist, religionist, etc. Thus, Cak Nun is one of multitalented figure. Physically, he has a pointed nose, brown skin, long hair and musthace.

 He was born in Jombang, East Java, May 27, 1953. He was the fourth child of 15 siblings. His father, MA Latif, was a farmer. He received his elementary education at Jombang (1965) and SMP Muhammadiyah Yogyakarta (1968). And he entered Gontor Ponorogo modern boarding school but later excluded because the demonstration against the government in the middle of the third year of his studies. Then he moved to SMA Muhammadiyah, Yogyakarta until graduation. Then he had continued to UGM Faculty of Economics, but did not graduate yet. He Only got formal education in Semester 1 Faculty of Economics, University of Gadjah Mada (UGM).

He had Five years of living homeless in Malioboro, Yogyakarta between 1970-1975 when studying literature. He also participated in theater workshops in the Philippines, International Writing Program at the University of Iowa, United States, International Poets Festival in Rotterdam, The Netherlands and Horizonte Festival III in West Berlin, Germany.

In daily life, Cak Nun directly involved in the community and doing activities and integrates the dynamics of art, religion, political education, in order to foster economic synergy potentialities of the people. In addition to the regular monthly activities with community Padhang Bulan Society, he also traveled to various parts of the archipelago, an average of 10-15 times per month with Music Kiai Kanjeng, and in average 40-50 shows a mass which is generally done in the area outside the building. Beside that, he also held a Kenduri Love at Taman Ismail Marzuki. Kenduri Love is friendship forum feast of culture and humanity are packed very open, light and wrapped in his cross-gender art. In social gatherings, he did various deconstruction understanding of the values, communication patterns, educational way of thinking, as well as the pursuit of the problem solutions.

In various community forums Cak Nun was always trying to correct a misunderstanding about something, whether errors of meaning and contextual meaning etymology. One is about da'wah, the world which he considered polluted. According to him, there is no parameter who is and is not to preach. "The main Da'wah not with words, but by behavior.”

His career began as Caregivers Space Daily Literature at the Present, Yogyakarta. Then a reporter / editor at the Daily Present, Yogyakarta, before becoming the leader of Theatrical Dynasty (Yogyakarta), and bands Kyai Kanjeng until now. Poet and columnist in several media.

Subject pluralism, often appears in discussions with community Cak Nun. Like he said some days ago in a national seminar which I present in FISIPOL UGM,  "What is pluralism?". “According to him, since the time of Majapahit kingdom was never a problem with pluralism. "Since the days of our fathers, the nation is already plural and can live in harmony. Maybe now there is no intervention from outside the country," said Cak Nun. He emphatically declared support pluralism. According to him, pluralism not think all religions are the same. Islam unlike Christianity, Buddhism, to Catholicism, to the Hindu. I just can say “What a wonderful thingking !” every after hear Cak Nun’s speech.


Sabtu, 15 Februari 2014

Surat untuk Ibu


Ibu, aku baik-baik saja di sini. Penuh dengan lindungan Ilahi, sebagaimana do'amu di pagi, siang dan malam hari. Ibu, mengapa semenjak kehidupan baru ini aku merasa sendiri, selaalu sendiri. Teman-temanku serasa pergi, hidupku mati, aku benar-benar sendiri.

Ibu, jika kau ingin nilaiku baik, maka itu sudah ku ikhtiyarkan. Jika kau berdo'a agar aku sehat wal 'afiat, maka itu tlah jadi genggaman. Namun sepertinya engkau belum mendo'akan agar aku tak sendiri, agar aku tak lagi hanya menangis di kamar mandi, agar aku tak lagi jadikan do'a sebagai tempat memaki. 

Ibu aku sudah tak tahan dengan semua ini. Semoga malam ini rembulan sampaikan air mataku, bahwa aku sedang kalut dan pilu, lantas engkau segera berwudhu mendo'akan putrimu.

Ibu, surat ini kutulis hanya sekedar luapan emosi, surat ini kutulis ketika benar-benar beban ini menjejal hati. Ku tak ingin bebanmu bertambah usai membaca ini, maka kubiarkan surat ini membisu, do'akan hingga akhir aku mampu menjalani, meskipun sendiri...

With tears,
Yogyakarta, February 15th, 2014 | 19.45 pm

Minggu, 09 Februari 2014

Grateful

Beberapa menit yang lalu, saya baru saja makan malam bersama keluarga kecil di sebuah resto di Jogja. Sebelumnya saya dijemput menggunakan mobil, lantas kami (keluarga kecil) meluncur ke TKP. Ya seperti biasa, makan, diskusi, dan sedikit banyak guyonan menyelinap di antara kami. Everyone feels happy.

Sekembalinya dari makan malam tersebut, saya membuka laptop meng'upgrade' info-info apa saja yang terjadi seharian ini. Tak sengaja saya menemukan sebuah foto yang mengharukan.Seorang laki-laki tua renta tidur melingkar terlihat berjuang dengan sepenuh tenaga menahan rasa lapar yang melilit di perutnya. 


Ya Allah, hamba yakin, hamba dapat berkumpul bahagia bersama orang-orang yang hamba cintai itu karena kehendakMu. Hamba dapat merasakan suapan demi suapan nasi itu karena rizqiMu. Hamba dapat meneguk segarnya air itu karena ni'matMu. Ya Robb, jadikan kami sebagai hambaMu yang senantiasa mengingat syukur dan haru. Grateful...


Yogyakarta, February 9th, 2014 | 11.12 pm

Sabtu, 04 Januari 2014

Pesan dari Milzam untuk Kang Aden

Masih suasana dirundung duka atas wafatnya vokalis Edcoustic, Kang Aden. Semalam ketika saya sedang beraktifitas di asrama tiba-tiba handphone saya bergetar. Sebuah pesan singkat mendarat di layar handphone. Ternyata salah seorang teman satu kelas saya yang sebelumnya jarang bahkan tidak pernah mengirim sms kepada saya tadi malam mengirim sebuah pesan hati. Namanya Milzam, ia adalah mahasiswa yang terkenal pendiam dan murah senyum. Penampilannya paling alim diantara seluruh mahasiswa di kelas bahkan di jurusan. Tak pernah lepas dari celana kain resmi dengan kemeja dan sepatu cats yang seadanya. Bukan hanya penampilan, ia menunjukkan alimnya dengan keteguhan hati dan prestasi. Mungkin ia tahu hanya saya yang sama-sama menyukai lagu edcoustic semenjak saya meminta file lagu Edcoustic dari flashdisk nya. Semoga pesan singkat ini memancarkan cahaya indahnya untuk kita semua dan Kang Aden khususnya. Lahumul fatihah.

" KIOKU"
Memang sebuah lagu yang sengaja kau ciptakan untuk selalu mengingat akan sosokmu,, tiap bait kata yang kau ukir, itu menggambarkan keadaan sekarang, alunan melodinya, sungguh membawa hati ini ke pelabuhan kasih-NYa harus aku terima bahwa kau benar benar telah istirahat dengan tenang disana. Walau aku tak pernah berjumpa denganmu "KANG ADEN"