“Menulis adalah nikmat termahal yang diberikan oleh Allah, ia juga sebagai perantara untuk memahami sesuatu. Tanpanya, agama tidak akan berdiri, kehidupan menjadi tidak terarah...” Qatâdah, Tafsîr al-Qurthûbî

Minggu, 07 Juli 2013

Love Letter



Pagi ini Allah memberiku sebuah hadiah manis lewat seorang sholihah sesama penghuni Daarul Firdaus (nama asrama). Pertama kali kubangun dan membuka mata, kulihat ada secarik kertas tergeletak di pojokan kamarku. Allaah :'( *lirihku

***

بسم الله الرحمان الرحيم

Ruang Rindu, 6 Juli '13

Apa kabarmu, sayangku? Adakah dirimu baik-baik saja?
Rasanya begitu lama aku tak melihatmu. 
Melihat keceriaanmu, melihatmu menghabiskan waktu bersamaku...
Sayangku... Kau begitu muda dan bersahaja, tak ada kekhawatiranku, kecuali satu, 'tak punya banyak waktu bersamamu'
Sayangku, rindu ini begitu dalam, kasih ini begitu tulus, ya... Ini fadhol-NYA...

Sayangku, jaga dirimu. Biarkan rindu ini beriring dengan robithoh pengobat rindu.

                                                                                                                 23.25

Subhanallah, ingin rasanya aku memeluknya, memberi suntikan cinta. Air mata ini tak bisa kubendung. Allah maafkan hamba jika akhir-akhir ini membuat semua memikirkan tentang keadaanku. Allah, katakan pada mereka, aku baik-baik saja.

***

Lantas segera kubuka pintu menuju kamar mandi, aku tak sabar ingin secepatnya membangun tahajjud cinta. Mendo'akan para sholih sholihah dunia. Semoga kita semua dipertemukan dalam jannahNya. Aamiin.


Yogyakarta, 7 Juni 2013, 04.40 WIB                                                                  

Sabtu, 06 Juli 2013

Tahaddu Tahabbu


Bismillaah..

Begitu lembutnya perangai Sang Idola Dunia, Rasulullah SAW. Perkataannya yang tersimpan menjadi hadits adalah bukti nyata betapa berharganya setiap ucapan yang beliau lontarkan. Dan salah satunya adalah "تهدوا تحابوا " (Tahaddu tahabbu), yang artinya saling memberilah hadiah, maka kalian akan saling mencintai.

Dan aku sendiri yang telah membuktikan keindahan cinta dari salah satu sunnah Rasul ini. Bagaimana dengan kamu? Share to me, guys *senyum

Wajahku Menganga Menatap CiptaanMU

Entah bagaimana aku mengekspresikan kekagumanku pada langit yang menjulang gagah nan indah itu. Subhanallaaah! waaaaawwww! maasyaaaa Allaah! arghh!!


Semua berawal ketika aku pertama kali naik pesawat dari Jakarta usai menghadiri konferensi berbasis internasional sekitar dua minggu yang lalu. Dari pengorbanan yang tak terlupakan, akhirnya kuputuskan untuk balik ke Jogja menggunakan pesawat. Nguuuuuuuuu, pesawat yang kutumpangi mulai naik ke atas. "Ya Allaah, aku menembus awan!", teriakku  dalam hati. Awan yang dulunya hanya bisa kuimajinasikan di sudut kekhusyu'an, kini aku melihatnya nyata tepat dihadapanku. Rasanya ingin memecahkan jendela pesawat, lalu keluar dan bermain-main dengan awan. Menulis, membaca, bahkan tidur di atas awan, ahh pasti menyenangkan.

Seketika ingatanku akan sebuah motto hidup mengeruak. Di atas langit, masih ada langit. Dulu pertama kali aku mendengar kalimat ini, rasanya sungguh ganjal, bagaimana ada langit di atas langit? bukankah Allah menciptakan langit hanya satu lapis saja? Namun aku sekarang mengerti, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. 

Suatu hari, aku ingin pergi ketempat yang tak umum dikunjungi, lantas dari situ aku akan membuat sebaris motto, khusus untuk para pejuang mimpi.

Alhamdulillaah yaa Allah..

Maka Nikmat Tuhanmu Yang Manakah Yang Kamu Dustakan?” [Suroh Ar-Rohman : 13]

Yogyakarta, 6th Juny 2012, 6.30 am

Jumat, 05 Juli 2013

Tahan! Semua Kan Indah pada Waktunya



Bismillaah..

Perjalanan dari kampus sore tadi membuat saya merenung. Hidup memang ditakdirkan untuk menahan. Ya, menahan! Menahan dari segalanya, amarah, dengki, emosi, semua yang berhubungan dengan hati. Entah itu timbul karena perasaan sakit hati, atau penantian yang terasa lama, atau sekedar menahan lapar ketika berpuasa. Dan bisa jadi 99,9% dari 100% emosi yang kita miliki adalah emosi yang tumbuh karena keberhasilan setan dalam menggoda kita, bukan karena emosi yang timbul karena perintah Sang Pencipta, betul tidak??. Sekali lagi memang semua yang kita lakukan seyogyanya sangat menyangkut sebuah kata kerja, "menahan".

Dan kali ini saya akan bercerita tentang sebuah pengalaman nyata menyangkut kata kerja, "menahan". Check this out.

****
Jum'at sore usai berbuka puasa saya keluar kamar dan tidak seperti biasanya melihat mbak-mbak asrama (*maklum saya paling muda di asrama) nimbrung di teras kamar. Salah satu dari mereka ada yang mengundang saya ke majlis kecil itu (*pret, majlis apaan). Ternyata baru ketahuan, magnet yang membuat mereka bergerumul adalah roti bakar dan camilan (*orang Jawa menyebutnya klethikan). Karena saya dasarnya memang doyan semua makanan, tanpa pikir panjang saya berlari menuju TKP. 

Singkat cerita setelah beberapa menit ngobrol ngalor ngidul, ngetan ngulon, tiba-tiba ada salah satu mbak-mbak menghentikan percakapan. "Apaaaaa", "aaaaa", "subhanallaah", "tidaaaaak", begitulah kira-kira luapan ekspresi seluruh penghuni asrama usai mendengar berita bahwa salah satu santriwati Daarul Firdaus (*nama asrama saya) akan menikah bulan Agustus nanti. Kebetulan yang akan menikah ini adalah salah satu santriwati yang sedang menyelesaikan study pascasarsajana di universitas Negeri Yogyakarta, asli Jambi, keturunan Jawa, dan merupakan ketua asrama Daarul firdaus (*terus?). Ok, lanjut ke cerita. Setelah sesi haru biru, selanjutnya sesi sharing. Agar perbincangan tidak membuang waktu dan tidak keluar jalur, salah satu berinisiatif menjadi moderator dan mbak yang akan menikah itu tentu saja menjadi narasumbernya. cerita dari awal ketemu, ta'aruf, khitbah, bla bla bla, dilanjutkan tanya jawab, dan 'ibroh paling ngena adalah.........

" Ada suatu waktu di mana hati rindu, sangat amat rindu, rindu sedalam-dalamnya untuk menikah, namun bila Allah memang belum mengijinkan, maka sampai engkau berteriak dalam do'a pun Allah tetap tidak akan memberikan pasangan hidupmu saat itu. Dan ketika Allah sudah menjatuhkan waktu yang tepat dan terbaik untukmu menikah, maka saat hati tak rindu menikah pun, sang pujaan hati pilihan Allah akan datang kepadamu membawa janji suci. "

Yogyakarta, Jum'at 5 Juni 2012, 23.30 WIB