“Menulis adalah nikmat termahal yang diberikan oleh Allah, ia juga sebagai perantara untuk memahami sesuatu. Tanpanya, agama tidak akan berdiri, kehidupan menjadi tidak terarah...” Qatâdah, Tafsîr al-Qurthûbî

Kamis, 07 Juni 2012

Khitbah Suci




“Ummiii aku udah cantik belum?”tanya seorang gadis kecil kepada ibunya.

“Ih cantik sekali anak ummi, yuk berangkat.” Ibu dan anak itu kemudian mengendarai motor menuju sebuah pesta walimatul ’ursyi. Si kecil memang senang sekali ikut umminya menghadiri acara-acara, utamanya walimatul ‘ursyi.

Suatu hari sepulang dari TPA si kecil menghampiri umminya yang sedang memasak, “Ummi ayo ke sana!”

 “Ke sana ke mana?”

“Tadi waktu pulang dari TPA aku liat ada orang walimahan, di sana orangnya cantik-cantik, ganteng-ganteng, ada banyak bunga, ada es krim juga Mi, trus lampunya teraang semua, kayak di walimahannya Pak Hari kemarin.”

“Dek, kita kan nggak diundang, jadi nggakboleh dateng, nanti kalo dimarahin pengantinnya gimana?”

“Pengantinnya yang perempuan pakek jilbab kok Mi, pastik baik,” suara kekanakannya membuat si ummi gemes.

“Ih Adek lucu banget, gini ya dengerin Ummi,”ibu tersebut melepas baju masaknya dan mengajak anaknya berbicara di tempat yang lebih nyaman, ruang tamu.

“Meskipun pengantinnya pakai jilbab, kalau kita nggak diundang, kita nggak bisa dateng, kalo dateng, itu namanya nggak sopan. Liat ni undangannya Pak Hari, kita kemarin bisa ke sana karena sudah kenal dengan Pak Hari, di samping itu kita juga dikasih undangannya.” Si kecil terlihat mendengarkan dengan serius namun tampaknya ia belum mengerti juga, umminya kemudian menjelaskan dengan bahasa yang lebih ringan.

“Sekarang Ummi tanya, kalo suatu hari Adek disuruh main ke rumah Mas Fadhli adek mau nggak?”

“Nggak mau, aku kan nggak kenal Mas Fadhli.”

“Nah, sama, kita juga pasti nggak mau kan pergi ke walimatul ‘ursyinya orang yang nggak dikenal?”jelas sang bunda dengan lembut.

Wajah si kecil yang semula serius berubah ceria, tandanya ia sudah mengerti, “Iya ya Mi, hehe, Aku main dulu ah!” Si kecil berlari ke luar rumah, jilbab birunya terbang ke kiri dan ke kanan diterpa angin sore.

                                                              ***

Sepasang mata sayu menatap ke arah cermin, “Mentariku tlah bersinar, member cahaya cinta dan iman, dulu dan sekarang kau begitu indah, hingga detik ini pun pesonamu selalu membuncah,”nyanyian hati seorang bunda.

Tak terasa si kecil yang dulu suka ngintil umminya ke acara-acara walimahan, kini tumbuh menjadi gadis  nan sholihah.

Usai merapikan jilbab di depan cermin, ia pergi berpamitan, “Ummi, kenapa senyum-senyum sendiri?”tanyanya heran.

“Ah, nggak papa, ummi cuman bahagia, anak ummi sudah gede sekarang, berangkat sekolah sana gih.”

“yaudah aku berangkat dulu, Assalamu’alaikum,”kedua bidadari itu saling berpelukan.

Ini bukan sekedar perjalanan ke sekolah, perempuan yang sekarang duduk di bangku kelas 3 SMA itu sedang berbicara dengan Tuhan. Ia mulai menata niat dan hati, menghirup udara persawahan, sesekali langkahnya melambat menendang-nendang benda kecil yang dilewatinya. Setelah semua keadaan menjadi rileks, hatinya siap bercerita, “Ya Robb, sekarang aku tahu bahwa indahnya pernikahan itu bukan karena acara walimahan yang penuh dengan permen, segarnya es pudding, atau terangnya lampu berhias bunga. Tarbiyah kehidupan yang Kau berikan padaku menjadi jawaban apa yang selama ini aku pikirkan. Ternyata pernikahan itu lebih indah dari beribu-ribu acara walimatul ‘ursyi. Sepasang hati terikat cinta suci, membangun taman kasih yang harmoni.” Langkahnya semakin pelan, ia enggan meninggalkan suasana persawahan yang menenangkan jiwanya, sedang waktu terus berdenting mendekati waktu bel sekolah berdering.

“Ah aku sungguh tak sopan, berbicara denganNya di tengah jalan seperti ini,” batinnya. Ia putuskan untuk kembali ke rumah dan meninggalkan urusan sekolah.

Sesampainya di rumah, ia segera mengambil air wudhu, si ummi belum tahu hari itu ia membolos sekolah. Gadis berwajah putih itu lantas membuka ibadah sunnahnya dengan shalat taubat, lalu dhuha dua raka’at, dilanjutkan shalat istikharah, shalat hajat, dan ditutup dengan shalat witir. Sebenarnya rangkaian ibadah ini sudah rutin ia lakukan setiap sepertiga malam, persis dengan urutannya. Namun pagi itu ia amalkan lagi sebagai senjata ampuh pengusir gelisah. Sekitar satu jam ia habiskan untuk sholat dan berdo’a pada Sang Khaliq. Segala khilaf, keraguan, keinginan, dan kebaikan ia curahkan. Usai bertaqarrub ilallah, hatinya menjadi semakin mantab. Bersegeralah ia menuju dapur, ia tahu ibunya pasti sedang membereskan dapur.

“Ummi, aku pengen bicara”katanya agak grogi.

“Lhoh Dek! Kenapa tiba-tiba ada di sini?! Kapan pulang? Kamu nggak ke sekolah tadi?”jawab ummi kaget.

“Hmm… tadi aku ke sekolah kok, tapi di tengah jalan aku pulang.”

Terjadilah perbincangan di ruang makan tak jauh dari dapur. “Ada apa ini sebenarnya?”tanya sang ummi dengan lembut.

“A… a… aku… aku…”

“Iya, kamu kenapa?”

“Aku pngen menikah mi.” Wajahnya memerah bak bayi baru lahir.

Suasana seketika menjadi hening.

“Serius?”ummi masih tak percaya.

“Hatiku udah manteb Mi,”jawab si gadis dengan tegas.

“Baiklah, ummi ngerti, Adek juga udah paham bagaimana itu pernikahan, sekarang ummi beri kesempatan waktu untuk istikharah, selanjutnya kita serahkan ke Allah. Masalah sekolah, kuliah ummi serahkan ke Kamu, yang penting niatkan semua untuk ibadah.”

***

Tepat dua minggu setelah perbincangan itu, datang seorang laki-laki muda ke rumah gadis itu. “Sini-sini masuk nak, ada kemari?”suara ummi begitu hangat terdengar.

“Tujuan saya kemari untuk mengkhitbah putri Ummi”

“Subhanallah”

Jadilah seorang ibu dan pemuda itu berbincang serius.

Mengetahui maksud dan tujuan laki-laki yang taka sing baginya itu, ia menelpon puterinya adar cepat kembali pulang. Lima belas menit kemudian, sang puteri dapat lewat pintu belakang.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam, cepat masuk, ada tamu,”sambut sang bunda

“Siapa Mi? sepertinya aku tak melihat ada kendaran terparkir di depan.”

“Dia mau mengkhitbahmu,”bisik ummi lirih.

“Apa!” Si gadis itu pun menuju ruang tamu.

“Subhanallah, ternyata kamu,” ia terkejut melihat laki-laki berbaju hijau semu dengan celana lepis duduk rapi di sofa sebelah barat. Belum sampai menemui lelaki itu, ia kembali ke belakang menyusul umminya. “Ini jawaban Allah ummi,” katanya dalam pelukan sang bunda sambil menangis.

Ku tak dapat menolak khitbahmu Akhi
Karna kau begitu sempurna bagiku
Ucap syukur kepada Ilahi Rabbi
Tlah takdirkan aku berjodoh denganmu
Kurasakan kedamaian hati
Ini nikmat yang tinggi

Khitbah suci tlah getarkan bumi ini
Merekahlah sudah cinta yang murni
Khitbah suci tlah jawab do’a-do’a ku
Ku tak sabar ucap janji suci
(Aslim Amir)

1 komentar: