“Menulis adalah nikmat termahal yang diberikan oleh Allah, ia juga sebagai perantara untuk memahami sesuatu. Tanpanya, agama tidak akan berdiri, kehidupan menjadi tidak terarah...” Qatâdah, Tafsîr al-Qurthûbî

Sabtu, 04 Juni 2016

Skak Mat !

Malam itu gelap menderu pekat seakan sirna oleh lampu berputar sebuah panggung salah satu majlis diba'iyyah barat pesantren. Akhirus sanah menjadi momen istimewa sehingga acara lebih meriah dari biasanya.

Kebetulan sekali hari itu juga diniyyah sudah mulai libur, maka serta merta lepas jama'ah sholat isya' di masjid, santriwati sudah ribut berangkat lebih awal. Iming-iming penampilan grup qosidah Nida Ria dari Semarang pun semakin membakar semangat.

Aku sendiri bersama teman-teman satu kamar sepakat untuk berangkat setelah makan malam. Kami tidak sesemangat santriwati lainnya, yang penting dapat kursi. Sebab jika datang lebih awal, takutnya acara belum mulai dan perut masih kosong terbengkalai.

Sedari sore sudah kukenakan rok jin biru pemberian Ibu oleh-oleh dari Bandung satu tahun yang lalu, kaos lapangan dengan warna senada jaman jadi Bantara Pramuka saat SMA lalu. Agar lebih sopan, maka ku cover dengan jas coklat, kemudian kupilih paduan jilbab warna hitam. Tas kecil berisi kitab Diba' masyhur gubahan Imam Wajihuddin ‘Abdur Rahman, note book biru gelap beserta pulpennya dan tak ketinggalan kipas kain pemberian salah seorang teman menjadi bekal setiap kali pergi ke majlis tersebut.

Sampainya di sana, kami disambut dengan suguhan roti sederhana khas pesantren yang biasa dijual di pasar kisaran harga seribu rupiah. Untuk sekedar menyejukkan kerongkongan, segelas air mineral kemasan juga ikut disuguhkan.

Sesuai dugaan, tamu membludak, perkiraaanku, baris depan adalah hadirin dari kalangan dzurriyyah Pesantren Krapyak, kursi agak tengah adalah Ibu-Ibu yang didominasi oleh kalangan santri, paling belakang jelas campuran warga sekitar, santri korban antri, dan tamu dari luar daerah. Akhirnya barisan kursi depan layar LCD menjadi pilihan kami. 


Memang panggung tak begitu terlihat jelas, namun video yang ditayangkan lewat proyektor ditambah kemegahan suara dari sound system itu sudah cukup memuaskan hati. 

Agak aneh rasanya, sebab biasanya ada saudara kembarku Rahma di sana. Baru kali ini absen tak hadir, mungkin ia sedang ada target rahasia. Tibalah satu waktu saat aku memandang lamat layar pantulan LCD, ada seorang wanita tak asing terpampang di sana, yang terlihat hanya bagian separuh kepala, dari atas hingga hidung saja. Aku jawil Si Atun adik sekamar paling imajiner, "Tun, Tun, itu Rahma, itu Rahma, berarti dia datang ke sini." Lantas kudongakkan pandangan mencari gadis jilbab hitam sesuai tayangan di baris agak depan. 

"Kok nggak ada ya Tun," bingungku.

Masih seperti orang penasaran, kupandang lagi layar, dan dugaan gadis itu adalah Rahma masih tershoot jelas di sudut paling bawah. Wajahnya sama sepertiku, kebingungan. Serta merta segalanya sirna bak petir menyambar di tengah cuaca cerah. Baru kusadari tak jauh di depanku seorang laki-laki membawa camera video mengarahkan bidikannya padaku. Saat kulihat layar kembali, tayangan semakin jelas, tergambar utuh wajah gadis berjilbab hitam yang slama ini membuatku penasaran. Ternyata bukan Rahma, bukan saudara kembarku yang kucari selama beberapa menit lalu, ternyata dia adalah aku!!

Yaa Bashiiir, Engkaulah sebaik-baik Penglihat, banyak insan yang keliru membedakan hamba dengan kedua saudara kembar hamba, mulai dari teman-teman bahkan diri hamba sendiri, hingga keluarga dekat. Sungguh Engkaulah sebaik-baik Penglihat.


Krapyak, June 4th, 2016, 6.40 am

Tidak ada komentar:

Posting Komentar