“Menulis adalah nikmat termahal yang diberikan oleh Allah, ia juga sebagai perantara untuk memahami sesuatu. Tanpanya, agama tidak akan berdiri, kehidupan menjadi tidak terarah...” Qatâdah, Tafsîr al-Qurthûbî

Sabtu, 06 Juli 2013

Wajahku Menganga Menatap CiptaanMU

Entah bagaimana aku mengekspresikan kekagumanku pada langit yang menjulang gagah nan indah itu. Subhanallaaah! waaaaawwww! maasyaaaa Allaah! arghh!!


Semua berawal ketika aku pertama kali naik pesawat dari Jakarta usai menghadiri konferensi berbasis internasional sekitar dua minggu yang lalu. Dari pengorbanan yang tak terlupakan, akhirnya kuputuskan untuk balik ke Jogja menggunakan pesawat. Nguuuuuuuuu, pesawat yang kutumpangi mulai naik ke atas. "Ya Allaah, aku menembus awan!", teriakku  dalam hati. Awan yang dulunya hanya bisa kuimajinasikan di sudut kekhusyu'an, kini aku melihatnya nyata tepat dihadapanku. Rasanya ingin memecahkan jendela pesawat, lalu keluar dan bermain-main dengan awan. Menulis, membaca, bahkan tidur di atas awan, ahh pasti menyenangkan.

Seketika ingatanku akan sebuah motto hidup mengeruak. Di atas langit, masih ada langit. Dulu pertama kali aku mendengar kalimat ini, rasanya sungguh ganjal, bagaimana ada langit di atas langit? bukankah Allah menciptakan langit hanya satu lapis saja? Namun aku sekarang mengerti, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. 

Suatu hari, aku ingin pergi ketempat yang tak umum dikunjungi, lantas dari situ aku akan membuat sebaris motto, khusus untuk para pejuang mimpi.

Alhamdulillaah yaa Allah..

Maka Nikmat Tuhanmu Yang Manakah Yang Kamu Dustakan?” [Suroh Ar-Rohman : 13]

Yogyakarta, 6th Juny 2012, 6.30 am

2 komentar: